Cerita Muyin, Pasien Pertama di Rembang Yang Sembuh Dari Covid-19

Muyin saat menceritakan kisahnya di ruang tamu rumahnya.

Rembang – Siang itu panas tak begitu menyengat, karna sebagian langit Rembang tertutup oleh awan mendung. Kondisi cuaca yang cukup bersahabat, mengantar Linimedia menuju ke sebuah desa terdampak Covid-19 yaitu desa Megal di Kecamatan Pamotan.

Letak desa Megal berjarak 21 kilometer dari pusat kota Rembang, atau butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke desa itu. Akses jalan menuju ke desa Megal usai melintasi jalan Rembang – Blora tergolong sempit. Hanya cukup untuk satu kendaraan roda empat dan agak susah jika terjadi simpangan.

Hamparan hijau tanaman padi dan tebu mengiringi perjalanan Linimedia menempuh jalan melintasi jalan pedesaan menggunakan sepeda motor hingga sampai ke desa itu. Angka digital pada jam tangan menunjukan pukul 13.40 WIB. Akhirnya Linimedia sampai di gapura masuk desa Megal. 

Akses jalan masuk desa itu terlihat berbeda. Jalan desa Megal terbuat dari susunan paving blok atau conblock yang terlihat baru saja dibangun, meski belum selesai secara keseluruhan. Berjarak kurang lebih 300 meter menyusuri jalan conblock dari gapura pintu masuk desa, Linimedia sampai di sebuah balai desa dengan bangunan pendopo kecil yang nampak teduh dibawah pohon besar.

Suasana di Desa Megal sendiri masih terlihat seperti sediakala, yakni tak terlihat raut wajah cemas atau ketakutan dari warganya. dalam hal ini semua warga Desa Megal masih melakukan aktivitasnya seperti biasa dan juga terlihat beberapa anak – anak masih bermain dan bersepeda lalu lalang di sekitar rumah warga.

Dari balai desa itu, Linimedia mencoba menelusuri rumah pasien Covid-19 yang diketahui bernama Muyin 29 tahun yang berhasil sembuh dan pulang pada 31 Maret 2020 lalu. Tidak terlalu sulit untuk menemukan rumahnya. Wajar karena ciri-ciri rumahnya dapat diketahui dari foto yang banyak beredar di media sosial dan ramai diperbincangkan kemarin malam saat pasien pulang ke rumahnya

Berjarak kurang lebih 120 meter dari balai desa, sebuah tenda biru sederhana yang berdiri didepan rumah rumah kecil nampak dari kejauhan. Setelah dihampiri, ternyata benar rumah tersebut sama persis dengan foto yang beredar di media sosial semalam saat penyambutan kedatangan dirinya dari RSUD Wongsonegoro Semarang, tempat dimana pasien menjalani perawatan setelah dirinya dinyatakan positif Covid-19.

Sisa kemeriahan masih terlihat saat warga desa menyambut kepulangan pasien pada malam itu. Dari banyaknya tumpukan kursi plastik yang diletakkan diteras rumah dan teratak yang masih berdiri tegak diatas jalan desa.

Dirumah yang tergolong sederhana dengan dinding tembok dari susunan batako yang masih belum dikuliti itu, Linimedia sudah ditunggu oleh Kepala desa Megal Ikha Pudiyanti. Karena sebelumnya Linimedia telah meminta ijin untuk melakukan peliputan di desanya dan pihak kepala desa bersedia untuk mendampingi.

Baca juga:  Sungai di Rembang Jadi Sasaran Buang Bangkai Ayam Pasca Banjir

Saat Muyin keluar setelah di panggil Ikha, dari dari ruang tamu nampak pemuda dengan wajah yang segar mengenakan kaos berwarna hitam dengan kombinasi lengan warna abu-abu dan celana pendek menyapa Linimedia dan mempersilahkan masuk ke ruang tamunya. Tidak nampak raut muka yang kebingungan saat media mendatangi rumahnya yang terletak disudut pertigaan itu. Wajar karena Muyin sudah tidak asing lagi dengan kedatangan media dirumahnya karena pada malam kepulangannya kerumah, selain warga juga banyak media yang melakukan peliputan.

Diruang tamu dengan ukuran kurang lebih 3×3 meter dengan meja kursi terbuat dari kayu dan beralaskan tanah, Muyin didampingi kepala desa dan sekretaris desa yang duduk di satu kursi panjang mulai menceritakan awal mula dirinya tertular Covid-19 hingga pengalamannya saat dirawat usai dinyatakan positif Covid-19.

Niat Menolong Malah Terjangkit Covid-19

Muyin bekerja sebagai kuli bangunan disebuah proyek di Bali. Dirinya bersama pekerja lainnya dari berbagai daerah tinggal disebuah rumah kontrakan tidak jauh dari lokasi proyek. Pada tanggal 14 Maret 2020, salah seorang teman Muyin dikontrakkan mengeluh sakit demam. Merasa kasihan, sebagai rekan kerja yang merantau dari jawa, Muyin mengantarkan temannya asal Jember itu pergi ke rumah sakit untuk berobat.

“Bilangnya badannya panas dingin, minta diantar ke rumah sakit. Karena kasihan ya saya antar ke rumah sakit,” ucapnya.

Muyin tidak tahu jika temannya itu terinfeksi Covid-19, yang ia tahu penyakit temannya itu hanya demam biasa. Usai mengantarkan temannya, Muyin pulang ke kontrakannya. Sedangkan temannya masih berada dirumah sakit. 

“Setelah saya antar, saya terus pulang ke kontrakan sendiri, dia (temannya) masih dirawat di rumah sakit,” jelasnya.

Keesokan harinya Muyin bersiap-siap untuk pulang ke Rembang karena sudah tiga bulan dirinya meninggalkan kampung halaman, disamping proyek yang ia kerjakan juga sudah selesai. Hanya bermodal ongkos perjalanan pulang, Muyin tetap memutuskan pulang meski belum mendapat bayaran dari proyek yang ia kerjakan.

“Karena sudah rindu keluarga di rumah, cuma bawa uang untuk sekali perjalanan ya sudah tidak apa-apa yang penting sampai rumah,” ucapnya.

Muyin Ditetapkan Sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP)

Sesampainya di rumah, Senin 16 Maret 2020 pagi, Muyin merasa sesak nafas dan badannya panas dingin. Melihat anaknya sakit, orang tua Muyin kemudian memberikan obat demam agar penyakitnya segera sembuh.

“Orang tua saya memberi obat Bodrex dan Migsagrip saat saya mengeluh sesak nafas dan panas dingin,” jelasnya.

Alih-alih sembuh, obat yang telah ia minum tidak bereaksi sedikitpun. Dirinya masih mengalami sesak nafas dan demam tinggi. Takut terjadi apa-apa, sore harinya Muyin dibawa orang tuanya ke klinik. Setelah diperikasa, Muyin langsung diberi surat rujukan ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Rembang.

Baca juga:  Satu Hal Yang Disukai Imam Maskur Saat Menjabat Bupati Rembang

Setelah tiba di RSUD Rembang dirinya langsung menjalani foto rontgen dan harus menununggu selama berjam-jam untuk mengetahui hasilnya. Dirinya tidak menyadari jika tubuhnya telah terinfeksi Covid-19, yang ia tahu hanya sakit demam biasa.

“Di Rembang itu dironsen, habis dironsen nunggu beberapa jam lagi terus dibawa ke Semarang,” katannya dengan lugu.

Setelah ditetapkan sebagai Sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) oleh pihak RSUD Rembang, Muyin langsung dibawa ke Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang untuk dilakukan perawatan lebih lanjut. Dari sanalah dirinya baru mengetahui bahwa tubuhnya terjangkit Covid-19. “saya sempat stres, depresi gara – gara itu mas,” ucap Muyin.

Setibanya di Rumah Sakit Wongsonegoro, lantunan sholawat terus ia ucapkan tanpa henti. Wajar, karena penyakit yang ia derita merupakan wabah mematikan yang saat ini telah melanda seluruh wilayah bumi Ibu Pertiwi.

“Saat tiba didepan pintu masuk Rumah Sakit Wongsonegoro saya baca sholawatan terus menerus sampai ke ruang isolasi,” tuturnya.

Berada Di Ruang Isolasi PDP

Pada hari pertama ia masuk ruang isolasi, Muyin mengaku ditempatkan diruang isolasi nomor satu. Sebuah ruangan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Dalam satu ruangan isolasi diisi empat pasien dengan status penyakit yang sama yaitu PDP. Disana ia bersama pasien laki-laki dari berbagai daerah termasuk Semarang.

Saat kebosanan menyerang Muyin biasa mengajak ngobrol teman satu ruangan, meski usianya jauh lebih tua darinya. Entah berbicara soal awal mula terkena Covid-19, tentang kerjaan bahkan keadaan keluarga di kampung halaman. Yang terpenting untuk mengurangi stres yang ia alami ketika masuk ruang isolasi.

“Karena sesama laki-laki, saya ngobrol dengan mereka, ada pasien dari semarang, katanya gejalanya sakit mag sama tipes,” terangnya.

Pasien yang ada di ruang isolasi, lanjut Muyin, tidak diperkenankan keluar masuk ruangan. Pihak rumah sakit sudah menyediakan bell didalam ruangan yang fungsinya untuk memanggil perawat dan membawakan apa yang pasien butuhkan.

“Waktu itu ada bapak-bapak (pasien) yang keluar masuk ruangan. Harusnya dia pencet bell, kemudian dia ditegasin sama perawatnya ” pak jangan keluar masuk, kalau butuh apa-apa pencet bell saja” ,” ucap Muyin.

Satu Ruangan Dengan Pasien Wanita Semua

Setelah beberapa hari dirawat, hasil tes swab menunjukan Muyin positif Covid-19. Ia kemudian dipindahkan ke ruangan isolasi nomor dua yang isinya sesama pasien positif Covid-19.

Entah beruntung atau tidak, laki-laki desa yang keseharian mencari rumput untuk pakan sapi saat di rumah ini berada dalam ruangan yang isi pasiennya wanita semua. Pria lugu ini hanya terdiam saat melihat sekelilingnya.

“Saat dipindah dari ruangan satu ke ruangan dua, disana pasiennya cewek semua. Saya bingung, kenapa di dindah satu ruangan dengan cewek-cewek,” kata Muyin dengan lugu.

Baca juga:  Pemahat Patung Dewa di Jepara Gigit Jari Jelang Imlek
Muyin bersama ibu kepala desa megal saat berada di teras rumahnya.

Hari demi hari Muyin lalui dengan menonton televisi yang menyala selama 24 jam hanya dengan satu chanel saja dan bermain ponsel yang ia bawa. Dukungan serta motifasi dari pemerintah desa dan masyarakat Megal selalu diberikan melalui video call. Bahkan hampir setiap hari Muyin mendapat Video call.

“Kalau pagi biasanya dari Bu Kades, dari perangkat desa. Nanti kalau malam sama keluarga sama teman juga,” ujar Muyin.

Meski bukan murni karena kesalahannya, Muyin juga merasa bersalah ketika 23 orang di desanya juga ikut terpapar Covid-19 saat berinteraksi dengannya dan ditetapkan sebagai orang dalam pengawasan (ODP). Melalui video call dengan keluarganya dirinya mengakui kesalahannya karena telah membuat gempar seisi desa.

“Waktu saya vidio call sama ibuk saya sampaikan pasti gara-gara saya nggih buk Megal jadi gempar,” kata Muyin dengan raut wajah bersalah.

Pihak rumah sakit, lanjut dia, secara rutin memberikan pelayanan selama 24 jam. Mulai dari Pukul 06.00 WIB, 12.00 WIB, dan 24.00 WIB perawat memberikan pelayanan yakni pemberian oksigen dan memberi semangat kepada semua pasien yang diisolasi diruangan tersebut.

Pernah ada dalam benaknya untuk mencoba mengobrol dengan pasien lainnya untuk mengusir kejenuhan. Namun karena sifatnya yang malu-malu akhirnya dirinya memutuskan untuk diam saja.

“Isinya perempuan semua, mau ngajak ngobrol ya malu, kalau diajak bicara saya baru ngomong. Tapi kalau tidak ya tidak bicara,” kata Muyin dengan wajah malu-malu.

Muyin tidak sendirian di Rumah Sakit Wongsonegoro, ia ditemani kerabatnya dari Rembang yang senantiasa menunggu diluar ruang isolasi dan memberikan keperluan Muyin. Meski mendampingi Muyin di Rumah Sakit Wongsonegoro, kerabatnya tidak diijinkan untuk masuk ruangan bahkan hanya sekedar melihat wajah Muyin.

“Kalau saya butuh sesuatu saya hubungi lewat whatsapp, nanti waktu mau mengasihkan harus lewat perawatnya dulu, baru diberikan ke saya,” ucap dia.

Selasa 31 Maret 2020, Muyin telah dinyatakan sembuh dari Covid-19 dan diperbolehkan kembali ke kampung halaman. Sesampainya di rumah, Selasa malam, ia langsung disambut warga desa dengan ucapan rasa syukur karena telah dinyatakan negatif Covid-19 berdasarkan hasil tes swab terakhir. Tidak hanya itu, kegembiraan Muyin semakin bertambah ketika mendengar ke 23 warga Megal yang sebelumnya berstatus ODP telah dinyatakan negatif Covid-19 semuanya.

Dirinya pun memberi pesan kepada pasien yang sedang berjuang melawan Covid-19 agar tetap terus berjuang dan berdoa. Jangan sampai pesimis dan takut yang mendalam dalam menghadapi penyakit Covid-19 ini.

“Sampai depan rumah saya langsung sujud syukur di depan pintu, karena semua permasalahan yang saya alami dengan penyakit corona ini sudah selesai. Untuk teman-teman yang masih berjuang, tetap semangat dan terus berdoa meminta agar penyakit yang diderita cepat diangkat, ” jelas dia.

Next Post

Educator ID Rembang Seleksi 137 Tutor Start up

Ming Nov 29 , 2020
Share on Facebook Tweet it Share on Google Pin it Email Rembang – Sebuah ‘start up’ pendidikan asli Rembang, Educator […]

Kategori

Arsip