SEMBUNYIKAN IKLAN INI
BeritaBisnisGaya hidupKesehatanMasyarakat

Sulit Hamil Tak Selalu Berujung Bayi Tabung, Ini yang Perlu Diperiksa Lebih Dulu

×

Sulit Hamil Tak Selalu Berujung Bayi Tabung, Ini yang Perlu Diperiksa Lebih Dulu

Sebarkan artikel ini

Kesulitan memiliki keturunan perlu ditelusuri penyebabnya terlebih dahulu sebelum pasangan memutuskan menjalani program bayi tabung.

Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi, Vannya Dewi Puspitasari.

Rembang, linimedia.com – Program bayi tabung kerap dipandang sebagai solusi bagi pasangan yang tak kunjung memiliki keturunan. Namun, tindakan tersebut sejatinya bukan menjadi langkah pertama yang harus ditempuh setiap pasangan yang mengalami kesulitan hamil.

Hal itu Dokter Spesialis Obstetri Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi, Vannya Dewi Puspitasari di sela-sela seminar Program Hamil (Promil) dan konsultasi bersama dokter ahli yang digelar Rumah Sakit Telogorejo Semarang di Hotel Pollos Rembang, Minggu (4/10).

Vannya mengatakan pasangan perlu terlebih dahulu menjalani pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kesulitan mendapatkan kehamilan. Menurutnya, faktor penyebab pasangan belum berhasil mendapatkan kehamilan tidak hanya berasal dari perempuan. 

Berdasarkan data yang disampaikannya, sekitar 40 persen berkaitan dengan faktor pria, 40 persen faktor wanita, sedangkan 20 persen lainnya belum diketahui penyebabnya.

“Dari pria misal spermanya, kita cek apa jumlah kurang, geraknya kurang. Kalau isteri, apakah di salurannya ada tumor, ada kistanya yang menghambat sperma masuk ke dalam rahim atau sel telur yang tidak matang. Kenapa kok kayak gitu, bisa karena kelainan hormon, sehingga tidak menghasilkan sel telur yang matang,” jelasnya.

Baca juga:  Persaga Gembong Juara Condromowo Cup 2024

Karena itu, pemeriksaan terhadap kedua pasangan menjadi bagian penting sebelum menentukan metode program kehamilan yang akan dijalani. Jika ditemukan gangguan tertentu, penanganan dapat disesuaikan dengan penyebabnya.

Apabila setelah melalui pemeriksaan dan penanganan kondisi pasangan tidak menunjukkan kendala yang memungkinkan terjadinya kehamilan secara alami, program bayi tabung dapat menjadi salah satu pilihan.

“Kita lakukan screening ketat. Kita pilih embrio yang benar-benar paling bagus selama proses bayi tabung. Untuk jenis kelamin bayi, orang tua nggak boleh milih ya, nggak boleh,” tegas Vannya.

Direktur Pemasaran SMC Rumah Sakit Telogorejo Semarang, Diana Loretta.

Direktur Pemasaran SMC Rumah Sakit Telogorejo Semarang, Diana Loretta, mengatakan layanan program bayi tabung di rumah sakit tersebut rata-rata melayani 10-15 pasien setiap bulan.

Untuk biaya, program bayi tabung ditawarkan mulai sekitar Rp39 juta untuk satu siklus. Adapun satu siklus berlangsung kurang lebih dua minggu, meskipun durasi dan biaya dapat berbeda tergantung kondisi masing-masing pasien.

Baca juga:  Terungkap Percakapan Yang Menjurus Dugaan Motif Pembunuhan Keluarga Anom Subekti

“Start mulai Rp39 juta. Satu siklus itu kira-kira dua mingguan. Tapi semua tergantung kondisi ya. Kalau belum berhasil, butuh operasi, biaya bisa tambah,” terangnya.

Pengalaman menjalani program bayi tabung juga dirasakan Zulfia, warga Desa Japerejo, Kecamatan Pamotan. Setelah sembilan tahun menikah dan belum memiliki anak, ia mengaku telah mencoba berbagai upaya program kehamilan di sejumlah daerah.

“Program alami di Pati, Rembang, Kudus, sudah nggak keitung. Kadarullah belum berhasil,” ungkapnya.

Setelah berbagai upaya tersebut belum membuahkan hasil, Zulfia bersama suaminya kemudian memutuskan menjalani program bayi tabung di RS Telogorejo Semarang.

Proses tersebut dimulai pada April 2024 hingga akhirnya ia dinyatakan positif hamil pada Desember 2024. Kini, anaknya telah berusia 13 bulan.

Baca juga:  BUKAN MAIN ! KORAK FC LAWAN SELOPURO LEGEND HASILKAN 9 GOL

“Alhamdulillah, semua karena Allah. Kalau ditotal sampai positif hamil, mungkin habis seratusan (juta) lebih. Saya ada riwayat hormon nggak normal, agak lama proses terapinya, obat agak mahal. Kalau orang lain kondisinya nggak seperti saya, bisa jadi lebih murah,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan DKK Rembang, Soesi Haryanti, mengapresiasi kegiatan edukasi tersebut karena memberikan akses informasi dan konsultasi kesehatan reproduksi lebih dekat kepada masyarakat.

Menurutnya, kegiatan semacam ini penting mengingat terdapat masyarakat Rembang yang juga memilih mendapatkan layanan kesehatan di RS Telogorejo Semarang.

“Apalagi ternyata banyak pasien dari Rembang yang berobat di RS Telogorejo. Harapan kami, memberikan manfaat, sekaligus menambah pengetahuan bagi masyarakat, terutama dari sisi perencanaan, kelahiran, hingga tumbuh kembang anak,” tandasnya. (*)

External comments notice: You may need to sign in to the external service to view or post comments.