Kudus, linimedia.com – Warga Kabupaten Kudus kini semakin mudah menyalurkan sampah, khususnya sampah organik.
Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) meluncurkan peta digital berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang memuat 525 titik penjemputan sampah yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Kudus.
Peluncuran peta digital tersebut dilakukan pada puncak kegiatan Lomba Keluarga ASIK (Apik dan Resik) 2026 yang diselenggarakan Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus bersama BLDF di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (9/6).
Kehadiran peta digital ini diharapkan mempermudah masyarakat menemukan lokasi pengumpulan sampah sekaligus memperluas partisipasi warga dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Program tersebut merupakan bagian dari gerakan Kudus ASIK yang dijalankan BLDF sejak 2022.
Melalui program ini, BLDF mengembangkan sistem pengelolaan sampah organik berbasis digital yang terintegrasi dengan jaringan sekitar 525 mitra, mulai dari rumah makan, pasar tradisional, masyarakat desa, hotel hingga sektor korporasi.
Dari kolaborasi tersebut, sekitar 50 ton sampah organik berhasil dihimpun setiap hari untuk kemudian diolah secara berkelanjutan di fasilitas pengolahan yang telah disiapkan.
Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengatakan peluncuran peta digital merupakan bentuk komitmen BLDF dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis teknologi sekaligus memperkuat upaya pelestarian lingkungan di Kabupaten Kudus.
Menurutnya, kemudahan akses terhadap informasi titik pengumpulan sampah menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk mengelola sampah sejak dari sumbernya.
“Kami meyakini bahwa keluarga merupakan fondasi utama pembentukan karakter generasi mendatang. Lebih dari 56 konten yang terdaftar menunjukkan antusiasme dan kepedulian masyarakat Kudus terhadap lingkungan. Kami berharap gerakan serupa dapat direplikasi di daerah lain sehingga semangat cinta lingkungan semakin meluas,” ujarnya.
Untuk mendukung layanan tersebut, BLDF mengoperasikan 10 armada penjemput sampah yang bekerja setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WIB.
Setiap armada mampu mengangkut sekitar 70 hingga 120 tong sampah per hari dari berbagai titik di Kabupaten Kudus.
Bahkan, armada tersebut melayani lokasi terjauh yang berjarak sekitar 27 kilometer dari Pusat Pengelolaan Sampah Organik (PPO) Djarum sebelum sampah dibawa ke fasilitas pengolahan.
Selain membangun sistem pengelolaan sampah, BLDF juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui gerakan Kudus ASIK.
Sejak Desember 2025, program ini diawali dengan sosialisasi kepada 150 kader PKK yang difokuskan pada perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari rumah tangga.
Upaya edukasi tersebut kemudian diperkuat melalui empat kelas pelatihan yang digelar pada Januari 2026 untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pengelolaan sampah.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat yang aktif menerapkan sekaligus mengampanyekan pengelolaan sampah, diselenggarakan Lomba Keluarga ASIK 2026.
Lomba tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat. Tercatat lebih dari 56 konten dikirimkan peserta dari berbagai unsur, mulai keluarga, RT, RW hingga kelurahan.
Dari jumlah tersebut, terpilih 16 nominasi terbaik yang terdiri atas delapan kategori Rintisan Baru dan delapan kategori Eksisting.
Para nominasi kemudian menjalani proses verifikasi lapangan pada 27–30 April 2026 sebelum diumumkan pada puncak acara.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, mengapresiasi dukungan Djarum Foundation dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah di daerahnya. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.
“Kegiatan hari ini tidak hanya tentang menyebarluaskan pemahaman pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga membangun kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat,” ujar Sam’ani
Ia menambahkan, apresiasi dalam Lomba Keluarga ASIK tidak hanya ditujukan bagi pemenang.
Keberhasilan gerakan ini pun tidak terlepas dari peran semua ekosistem yang terus bekerja secara konsisten, mulai dari OPD tingkat desa dan kelurahan sebagai ujung tombak pembinaan masyarakat.
“Melalui proses penjaringan yang dilakukan secara ketat dan bertahap, tentunya saya yakin tim penyelenggara telah memastikan bahwa seluruh keluarga yang terpilih sebagai pemenang benar-benar menjadi teladan yang valid, inspiratif, serta mampu menggerakkan lingkungan sekitarnya demi terwujudnya Kabupaten Kudus yang lebih bersih dan sehat,” lanjut Sam’ani.
Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni turut menjadi resonansi yang kuat. Plt Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Didik Tri Prasetiyo menekankan optimismenya akan perubahan perilaku yang dapat dilakukan secara masif.
Ia menyampaikan bahwa persoalan sampah membutuhkan upaya komprehensif mulai hulu sampai hilir.
Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga menjadi kunci yang membuka rantai solusi agar kebijakan dan program pengelolaan sampah dapat berjalan efektif.
“Karena itu, kami optimis gerakan Keluarga ASIK dapat menjadi katalis perubahan perilaku masyarakat. Jika dimulai dari keluarga dan dilakukan secara konsisten, dampaknya akan sangat besar bagi kelestarian lingkungan,” pungkas Didik. (*)









