
Jepara – Pengrajin patung dewa Tiongkok di Jepara, hanya bisa gigit jari dan meratapi nasib menjelang perayaan Imlek 2021 ini. Pasalnya, selama masa pandemi Covid-19 melanda Indonesia, pastinya berdampak pada pesanan patung dewa asal Jepara.
Sumarno misalnya, seorang pengrajin patung dewa Tiongkok yang memiliki workshop di sentra industri seni patung dan ukir Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara ini hanya memahat untuk stok di bengkelnya dan bukan berdasarkan pesanan yang biasanya banjir menjelang tahun baru Cina.
Saat ini pesanan hanya ada dari pasar lokal, itu pun hanya 12 patung dewa saja.
Padahal Imlek tahun kemarin, workshopnya dipenuhi hasil pahatan yang siap dikirim ke penjuru dunia. Tahun ini jauh bertolak belakang, pasar di Indonesia maupun negara Asia lainnya lagi lesu, disengat ganasnya pagebluk. Sehingga berimbas turunnya pesanan patung dewa-dewa untuk menghiasi Kelenteng maupun Vihara.
Sumarno menyeritakan, Imlek tahun kemarin dengan dibantu enam perajin, mampu memproduksi puluhan patung aneka dewa yang merupakan permintaan dari pasar domestik maupun manca negara. Malahan di tahun yang sama, ia mampu menyelesaikan 24 patung dewa pesanan untuk salah satu tempat ibadah di Medan.
Kebanyakan negara luar yang memesan patung dewa buatan tangannya, berasal dari Taiwan, Cina, dan Malaysia. Baik dipesan secara langsung oleh yayasan keagamaan maupun perorangan yang untuk selanjutnya di sumbangkan ke rumah ibadah.
“Tahun ini, mendekati Imlek jauh menurun sekitar 60 persen penurunannya. Saat ini pesanan hanya ada dari pasar lokal, itu pun hanya 12 patung dewa saja,” ujarnya saat ditemui di workshopnya, Kamis (28/1/2021).
Pria yang bermukim di sentra industri seni patung dan ukir Desa Mulyoharjo, Kecamatan/Kabupaten Jepara ini menambahkan, semua jenis patung mampu dibuatnya. Mulai dari ukuran terkecil setinggi 28 sentimeter, ukuran sedang, hingga patung berukuran besar yang mencapai tinggi bermeter-meter.
“Untuk harganya bervariasi, mulai yang terkecil 1,5 juta rupiah hingga yang termahal puluhan juta rupiah,” sebutnya.
Khusus untuk pembuatan patung dewa cina, ia menggunakan bahan baku kayu mahoni. Kayu ini dipilih karena tak mengeluarkan getah saat patung telah jadi, perawatannya pun dikatakannya cenderung lebih mudah. Berbeda dengan kayu jati, yang lambat laun bisa bergetah meski telah melalui perlakuan khusus.
“Semua proses kita lakukan secara manual. Sehingga menjadi nilai lebih,” imbuhnya.
Meski order pesanan didominasi oleh patung dewa cina. Namun dijelaskannya, pihaknya tidak membatasi diri untuk membuat patung maupun produk kerajinan lainnya. Hanya saja selama ini, pesanan yang datang berkutat pada pahatan patung dewa cina.
“Semua patung bisa kita buat, tergantung pemesan. Memang paling banyak dari dulu sampai sekarang, ya patung dewa cina,” jelasnya.
Untuk mengatasi turunnya omzet akibat pagebluk. Sumarno sempat mencoba memasarkan kerajinannya melalui salah satu platform media sosial (Medsos). Namun pasar daring, dinilainya kurang efektif.
“Online ada, tetapi kurang efektif. Banyak yang minat, hanya saja mereka selalu menawar diharga yang paling rendah,” ungkapnya.