Rembang, linimedia.com – Puluhan siswa sekolah dasar di Kabupaten Rembang mendadak harus mendapat penanganan medis usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (21/4).
Sebanyak 22 siswa SDN Balongmulyo, Kecamatan Kragan, dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas 2 Plawagan Kragan setelah mengalami gejala keracunan.
Kejadian bermula sekitar pukul 10.00 WIB, tak lama setelah jam istirahat. Satu per satu siswa mulai mengeluhkan mual, pusing, hingga sesak napas.
Situasi di sekolah pun berubah panik ketika jumlah siswa yang mengalami keluhan terus bertambah dalam waktu singkat.
Salah satu siswa, Ajeng Sivana Alza, mengaku sudah curiga sejak awal saat mencicipi susu yang menjadi bagian dari menu MBG hari itu. Ia menilai rasa susu tidak seperti biasanya.
“Susunya saya minum sedikit karena rasanya asam, langsung saya buang. Setelah minum itu perut terasa sakit, dada sesak, muntah, sama kepala pusing,” tuturnya.
Selain susu, paket makanan yang dibagikan kepada siswa terdiri dari nasi, sayur, telur, tempe, tahu, dan buah kelengkeng.
Namun, dugaan sementara mengarah pada susu yang disebut-sebut memiliki rasa tidak wajar oleh beberapa siswa.
Kepala Puskesmas Kragan 2, Arif Rohman Hakim, mengatakan seluruh siswa langsung mendapat penanganan intensif setibanya di fasilitas kesehatan.
Dari total 22 siswa, sebanyak 17 anak harus menjalani perawatan lanjutan, sementara lima lainnya diperbolehkan pulang karena kondisinya berangsur membaik.
“Gejalanya hampir sama, muntah dan sakit perut. Karena muntahnya belum berhenti spontan, kami putuskan rawat inap darurat agar penanganannya lebih maksimal,” jelas Arif.
Hingga kini, pihak puskesmas bersama instansi terkait masih melakukan penyelidikan untuk memastikan sumber pasti penyebab kejadian tersebut.
Pemeriksaan difokuskan pada seluruh menu MBG yang dikonsumsi siswa, terutama susu yang diduga menjadi pemicu.
Sementara itu, kondisi para siswa yang dirawat dilaporkan mulai menunjukkan perkembangan positif.
Meski demikian, tim medis masih melakukan pemantauan ketat guna mengantisipasi kemungkinan munculnya gejala lanjutan. (*)









