LASEM, linimedia.com – Pagi belum terlalu tinggi ketika langkah kaki mulai menyusuri jalan-jalan desa. Tidak ada perlombaan, tidak ada target jarak tertentu.

Hanya sekelompok orang yang berjalan bersama, sesekali berbincang dan bercanda.Bagi sebagian orang, berjalan kaki mungkin hanya aktivitas sederhana. Namun, bagi anggota Pawala Muda (Perkumpulan Warga Lasem Muda), langkah-langkah tersebut menjadi awal dari sebuah perjalanan yang lebih panjang, yakni membangun kebersamaan.
Komunitas yang tumbuh di Lasem ini bermula dari kebiasaan beberapa orang berjalan kaki bersama. Dari yang awalnya hanya dua atau tiga orang, kegiatan tersebut perlahan mengundang warga lain untuk ikut bergabung.
Ketua Pawala Muda, Jonathan Levyando melalui Wakil Ketua , Joyo Saputra, mengungkapkan bahwa ide awal komunitas tersebut memang sederhana, yakni berkumpul sambil berjalan kaki.
“Komunitas pejalan kaki, jadi kita jalan kaki. Biasanya jalan sehatnya di desa-desa,” ujar Joyo.
Rute perjalanan pun tidak terpaku pada satu tempat. Jalan-jalan di kawasan pedesaan menjadi pilihan untuk menikmati suasana sekaligus berolahraga.
Tidak terasa, aktivitas tersebut telah berlangsung lebih dari satu tahun. Jumlah anggota Pawala Muda kini sekitar 15 orang, jumlah itu mungkin belum besar. Namun, bagi komunitas yang tumbuh secara organik dari kebiasaan beberapa orang, bertambahnya anggota menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang membuat mereka nyaman untuk terus berjalan bersama.
“Awalnya cuma dua orang, satu orang, tiga orang. Semuanya ikut, pokoknya yang mau ikut,” kata Joyo.
Bukan Sekadar Jalan KakiWaktu yang dihabiskan bersama ternyata membuat Pawala Muda berkembang lebih dari sekadar komunitas pejalan kaki. Kebersamaan mulai dibawa ke aktivitas lain.
Para anggota tidak hanya hadir seorang diri, tetapi juga mengajak pasangan dan anak-anak.Makan bersama menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mempererat hubungan antaranggota.
“Misalnya ada yang ngajak anak-anak sama istri. Jadi kita waktu kumpul bisa ngajak anak dan istri, makan bersama,” tutur Joyo.
Di titik ini, jalan kaki menjadi semacam pintu masuk. Setelah langkah bersama, ada percakapan yang terbangun. Dari percakapan itu muncul kedekatan, dan dari kedekatan tersebut, lahir rasa memiliki terhadap komunitas.
Tak Ingin Berhenti di Tren Sesaat
Komunitas yang terbentuk dari aktivitas sederhana ini juga tidak ingin keberadaannya hanya berlangsung sebentar.Joyo mengatakan Pawala Muda bukan komunitas yang dibentuk karena mengikuti tren semata.
Lebih dari satu tahun berjalan, mereka justru ingin menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari kehidupan para anggotanya. Harapannya sederhana, tetap berjalan bersama selama mungkin.
“Ini hampir setahun lebih. Harapannya kita awet sampai tua,” ujarnya.
Bagi Joyo dan anggota Pawala Muda, jalan kaki bukan sekadar program jangka pendek. Ada keinginan untuk menjadikannya sebagai aktivitas yang bisa dilakukan dalam jangka panjang.
“Jadi program jalan kaki ini bukan cuma proyek jangka pendek, tetapi jangka panjang,” lanjutnya.
Pada akhirnya, perjalanan Pawala Muda bukan hanya tentang seberapa jauh kaki mampu melangkah. Ada cerita tentang dua atau tiga orang yang kemudian mengajak orang lain, ada keluarga yang ikut dalam kegiatan.
Ada makan bersama setelah berkumpul. Ada pula harapan agar pertemanan yang terbentuk tidak berhenti ketika usia bertambah.
Di tengah kesibukan masing-masing, Pawala Muda menemukan cara sederhana untuk tetap bertemu, berjalan kaki. Langkah mereka mungkin tidak selalu cepat, rutenya pun bisa berubah-ubah, tetapi satu hal yang ingin dipertahankan adalah kebersamaan.
Dari jalan desa di Lasem, Pawala Muda sedang merawat sebuah perjalanan kecil yang diharapkan bisa berlangsung panjang, dari masa muda, hingga suatu hari nanti mereka menoleh ke belakang dan menyadari bahwa banyak cerita telah tercipta dari langkah-langkah yang pernah dilakukan bersama. (MCS)









