Rembang, linimedia.com – Gelombang pasang air laut atau banjir rob kembali menerjang sejumlah wilayah pesisir Kabupaten Rembang dalam beberapa hari terakhir.
Sedikitnya 13 rumah warga dan satu lokasi pembibitan benur terdampak, dengan kerusakan paling parah terjadi di Desa Sumurtawang, Kecamatan Kragan.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kabupaten Rembang, banjir rob terjadi pada Sabtu (6/6) sekitar pukul 09.00 WIB.
Tiga wilayah yang terdampak meliputi Desa Pantiharjo Kecamatan Kaliori, Desa Sumurtawang Kecamatan Kragan, serta Desa Pandangan Kulon.
Di Desa Pantiharjo, air laut pasang menggenangi lima rumah warga dan jalan desa sepanjang sekitar 150 meter dengan ketinggian air 20–30 sentimeter.
Sementara di Desa Sumurtawang, delapan rumah warga terdampak rob, lima di antaranya mengalami kerusakan pada bagian bangunan.
Di Desa Pandangan Kulon, abrasi pantai dilaporkan semakin mendekati kawasan permukiman warga.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang, Muhammad Luthfi Hakim, mengatakan kejadian rob di wilayah tersebut sebenarnya sudah menjadi langganan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, kondisi kali ini cukup mengkhawatirkan karena kerusakan yang ditimbulkan semakin besar.
“Untuk rob di Kabupaten Rembang ini memang sebenarnya sudah menjadi langganan di lokasi-lokasi tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Kemarin kami bersama tim BBWS Pemali Juana sudah turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi yang terjadi,” ujarnya.
Luthfi menjelaskan, hasil asesmen menunjukkan Desa Sumurtawang menjadi lokasi dengan dampak paling parah.
Salah satu rumah warga mengalami kerusakan serius setelah bagian dapurnya roboh akibat terjangan gelombang dan abrasi.
“Hasil asesmen kemarin yang paling parah itu di Sumurtawang. Imbasnya ada dapur warga yang hancur. Memang bangunannya semi permanen, tetapi kerusakannya cukup parah,” katanya.
Selain delapan rumah di Sumurtawang, lima rumah di Pantiharjo juga terdampak genangan rob.
Sementara di kawasan Pandangan Kulon terdapat delapan bangunan yang terdampak, termasuk satu bangunan yang digunakan sebagai tempat pembibitan benur.
“Kalau di Pantiharjo ada lima rumah yang terdampak. Di Pandangan sebenarnya ada sembilan bangunan, tetapi yang satu merupakan tempat pembibitan benur,” jelasnya.
Menurut data BPBD, tidak ada korban jiwa maupun warga yang mengungsi akibat kejadian tersebut.
Namun aktivitas masyarakat sempat terganggu karena air laut masuk ke jalan dan lingkungan permukiman.
Kerugian di wilayah Sumurtawang diperkirakan mencapai sekitar Rp40 juta.
BPBD Kabupaten Rembang telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Tengah dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk mencari solusi penanganan jangka panjang.
Upaya pemasangan geobag yang sebelumnya direncanakan dinilai tidak lagi efektif karena tingkat abrasi dan terjangan gelombang yang cukup tinggi.
“Tadi kami sudah berkoordinasi dengan Kalakhar BPBD Provinsi Jawa Tengah. Ke depan akan dikoordinasikan pemasangan breakwater permanen karena kondisi di lapangan tidak memungkinkan hanya menggunakan geobag,” ungkap Luthfi.
Ia menambahkan, tim dari BPWS dan BPBD Provinsi dijadwalkan kembali turun ke lokasi pada pertengahan pekan ini untuk melakukan pemetaan kebutuhan pembangunan tanggul laut dan pemecah gelombang permanen di titik-titik terdampak.
Selain rob, cuaca buruk akibat peralihan arah angin juga berdampak pada aktivitas masyarakat pesisir, termasuk sejumlah objek wisata pantai. BPBD mengimbau warga dan wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Karena saat ini sedang masa peralihan angin dari barat ke timur, kami mengimbau masyarakat dan pengunjung wisata pantai untuk sementara tidak bermain atau masuk ke air laut demi keselamatan,” pungkasnya. (*)









