Alasan Wayang Gagrak Lasem Tidak Bisa Dimainkan Sembarang Dalang

Ki Sahir Desa Jolotundo dari Desa Jolotundo Kecamatan Lasem menunjukan cara memainkan wayang gagrak Lasem. (Linimedia/Rendy Wibowo)

Rembang – Wayang gagrak pesisiran Lasem merupakan kesenian asli dari Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang yang moncer pada era 1990-an. Kesenian ini cukup unik dimana tidak sembarang dalang bisa menguasai pementasan wayang gagrak Lasem.

Makanya ini salah satu yang menjadikan kesulitan kalau mementaskan. Mulai dari awal sampai akhir itu slendro semua, tidak boleh ada pelog.

Budayawan Lasem Yon Suprayoga menjelaskan wayang gagrak pesisiran Lasem merupakan induk dari wayang gagrak yang ada di beberapa daerah. Seperti wayang gagrak Solo, wayang gagrak Jogja, wayang gagrak Kebumen, dan lain sebagainya.

Wayang gagrak Lasem sendiri memiliki ciri khas yang berbeda dengan wayang gagrak pada daerah lain. Perbedaan itu terletak pada awal pentas wayang gagrak Lasem yang selalu diawali dengan permainan wayang golek.

Kemudian, lanjut dia gamelan yang mengiringinya harus bernada slendro dan tidak boleh ada nada pelog. Inilah yang menjadi hal yang paling sulit jika ingin mementaskan wayang gagrak Lasem.

“Gamelanya yang mengiringi harus slendro, kalau pelog sudah tidak bisa,” kata Yon Suprayoga, Kamis 18 Mret 2021.

Nada slendro itu, lanjut dia, menggambarkan suasana yang megah namun sunyi, muram namun tenang, sunyi dan mengandung harapan. Berbeda dengan pelog yang menggambarkan suasana gagah perkasa, dan agung.

“Makanya ini salah satu yang menjadikan kesulitan kalau mementaskan. Mulai dari awal sampai akhir itu slendro semua, tidak boleh ada pelog,” jelasnya.

Ia menambahkan, wayang gagrak Lasem juga memiliki ciri khasnya dari tokoh-tokohnya, yakni  Ratu, Patih alus, Patih kasar, Emban ayu, Emban elek, Golek ayu dan Kyai Regol. Hal unik dari ketujuh wayang golek ini, setiap wayang boleh diberi nama atau tokoh sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya, hanya kyai Regol yang tidak boleh diganti.

Kyai Regol harus tetap menjadi Kyai Regol. Dia tidak bisa menjadi arjuna, tidak bisa duryudana, tidak bisa menjadi dewa, tidak bisa menjadi sengkuni, bisma ataupun dorna ataupun menjadi yang lain.

“Semua pemerannya bisa jadi apa saja kecuali satu, namanya Mbah Regol. Mbah Regol itu semacam representasi dari rakyat Lasem, ini yang tidak boleh berubah,” bebernya.

Hanya ada dua orang dalang saja yang bisa memainkan kesenian asli dari Lasem yang lahir dari penggabungan gagrak Cempo dan gagrak Majapahit. (Linimedia/Rendy Wibowo)

Kepopuleran wayang gagrak pesisiran Lasem kini kian meredup seiring berkembangnya jaman. Kini hanya menyisakan dua orang dalang saja yang bisa memainkan kesenian asli dari Lasem yang lahir dari penggabungan gagrak Cempo dan gagrak Majapahit.

Kedua dalang itu yakni Ki Sahir Desa Jolotundo dari Desa Jolotundo Kecamatan Lasem dan dan Ki Kartono Desa Sendangasri Kecamatan Lasem. Upaya pengkaderan hingga saat ini belum maksimal dan dikhawatirkan punah lantaran tak ada lagi yang sanggup memainkannya.

Ki Sahir saat ditemui di kediamannya di Desa Jolotundo kepada CBFM (18/3) mengatakan, yang bisa meneruskan kesenian wayang gagrak Lasem sebelumnya ada 4 orang. Mereka adalah Ki Sahir Desa Jolotundo, Ki Ramelan Desa Doropayung, Ki Priyodari (ayah dari dalang Gondrong) dan Ki Kartono Desa Sendangasri.

Namun dua diantara keempat dalang itu sudah berpulang ke rahmatullah. Hingga kini hanya menyisakan dirinya dan Ki Kartono saja.

“Setelah dalang yang tua-tua itu sudah tidak ada, yang bisa meneruskan wayang gagrak Lasem itu Ki Sahir, Ki Ramelan, Ki Priyodari ayah dari dalang Gondrong, dan Ki Kartono. Kemudian dalang Ramelan Doropayung sudah kapundut, ayah dari dalang Gondrong juga sudah kapundut. Hanya tinggal saya dan Mas Kartono,” bebernya.

Ki Sahir mengungkapkan sebenarnya ada beberapa orang yang ingin belajar memainkan kesenian wayang gagrak Lasem. Salah satu diantaranya yaitu Dalang Gondrong. Ia pun sangat terbuka dan berterimakasih jika ada yang mau belajar dan melestarikan kesenian asli dari Lasem itu.

Baca juga:  3 PPPK Rembang Batal Terima SK Pengangkatan

Next Post

Nasib Kendaraan Bekas Pada Sistem Tilang Elektronik

Sel Mar 23 , 2021
Share on Facebook Tweet it Pin it Email Rembang – Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) atau tilang elektronik di Kabupaten […]

Kategori

Arsip