Kemurah Hati Almarhum Anom Subekti, Pinjam Gamelan Diganti Sebungkus Peyek

Pemuda Desa Ngadem ketika berlatih di padepokan ongko joyo milik almarhum Anom Subekti.

Rembang – Sosok almarhum Anom Subekti tentu tidak akan hilang dari ingatan para pemuda yang tergabung dalam komunitas Cointens Desa Ngadem Kecamatan Rembang. Tanpa mematok biaya, para pemuda tersebut diijinkan gratis untuk menggunakan alat musik gamelan milik almarhum Anom Subekti.

Salah satu pemuda Cointens yang juga anggota BPD Desa Ngadem, Andi Hermawan mengaku almarhum Anom Subekti merupakan sosok yang suka dengan pemuda pelestari budaya Jawa. Sehingga jika ada pemuda dari manapun yang ingin menggunakan alat musik gamelannya pasti diijinkan secara gratis.

“Awal kita matur (ijin) untuk latihan gamelan, beliau langsung mempersilahkan, waktu kita tanya harus bayar berapa per latihan beliau bilang tidak usah, bilangnya ngerti cah enom nguri uri kabudayan Jawi aku wis seneng (tahu anak muda ingin melestarikan budaya Jawa, saya sudah seneng), ” kata dia, Selasa 9 Februari 2020.

Jadi terkadang kita bawakan dua sampai tiga bungkus karena salah satu dari kita ada yang produksi peyek. Itu saja sudah senangnya bukan main.

Ia mengaku, jika ditempat lain untuk latihan karawitan para pemuda harus mengeluarkan uang untuk biaya menggunalan alat gamelan. Namun di Padepokan Seni Ongko Joyo Desa Turusgede, Rembang milik Almarhum Anom Subekti mereka digratiskan berlatih kapanpun.

“Dipersilahkan latihan sesukanya, seminggu boleh 2-3 kali. Karena mengikuti dengan jadwal pelatih, kita latihan seminggu sekali di Padepokan Seni Ongko Joyo,” jelasnya.

Pemuda Mudho Laras dari Desa Ngadem saat berlatih di Padepokan Ongko Joyo milik almarhum Anom Subekti.

Karena merasa tidak enak jika selalu digratiskan saat berlatih, para pemuda tersebut berinisiatif membawakan dua sampai tiga bungkus peyek untuk almarhum. Hanya diberi beberapa bungkus peyek, almarhum sangat senang sekali pada saat itu.

“Kebetulan almarhum Pak Bekti suka sekali sama peyek, jadi terkadang kita bawakan dua sampai tiga bungkus karena salah satu dari kita ada yang produksi peyek. Itu saja sudah senangnya bukan main,” bebernya.

Ketika para pemuda Cointens ini berlatih, lanjut dia, almarhum Anom Subekti sering memperhatikan mereka sambil menikmati peyek tersebut. Melihat bakat para pemuda tersebut cukup mumpuni, grup karawitan dari pemuda Cointens tersebut bahkan sempat diberi nama “Mudha Laras” oleh almarhum.

“Nama komunitas kita itu Cointens, sedangkan untuk nama grup karawitan kita diberi nama   “Mudha Laras” sama almarhum Pak Bekti. Beliau melihat kita latihan cukup baik pada saat itu. Itungannya baru awalan kita sudah bisa memainkan 6 tembang jawa,” ucap dia.

Kini, momen tersebut hanya tinggal kenangan bagi para pemuda Mudha Laras. Sosok almarhum Anom Subekti yang murah hati tidak akan hilang begitu saja. Ia berharap dari kejadian nahas yang menimpa almarhum Anom Subekti beserta keluarganya itu segera terungkap dan pelakunya mendapat hukuman yang setimpal.

“Semoga kasus ini dapat segera terungkap pelakunya dan pelakunya harus dihukum seberat-beratnya,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, satu keluarga di Desa Turusgede Kecamatan Kota Rembang, Rembang, Jateng, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di rumahnya, pada Kamis 5 Februari 2021 lalu sekitar pukul 06.45 WIB. Ada sebanyak 4 anggota keluarga, di antaranya adalah kepala keluarga yang merupakan pemilik padepokan seni Ongko Joyo, Anom Subekti.

Baca juga:  Penyebab Pemukiman Warga Kecamatan Kota Rembang Terendam Banjir

Next Post

Pemahat Patung Dewa di Jepara Gigit Jari Jelang Imlek

Rab Feb 10 , 2021
Share on Facebook Tweet it Pin it Email Jepara – Pengrajin patung dewa Tiongkok di Jepara, hanya bisa gigit jari […]

Kategori

Arsip