<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Arsip &#8211; linimedia</title>
	<atom:link href="https://linimedia.com/category/cerita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://linimedia.com/category/cerita/</link>
	<description>Unik, Menarik, dan Menggelitik</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 Mar 2025 21:34:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2023/12/cropped-LINIMEDIA-LOGO-KECIL2-3.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Cerita Arsip &#8211; linimedia</title>
	<link>https://linimedia.com/category/cerita/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">186072296</site>	<item>
		<title>Kesaksian Dua Korban Laka Bus New Shantika Asal Rembang, Mencari Istri Kondisi Hamil Tak Ada di Bus</title>
		<link>https://linimedia.com/kesaksian-dua-korban-laka-bus-new-shantika-asal-rembang-mencari-istri-kondisi-hamil-tak-ada-di-bus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Miftachuss]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Jan 2024 09:14:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Top]]></category>
		<category><![CDATA[2024]]></category>
		<category><![CDATA[Bus New Santika Laka]]></category>
		<category><![CDATA[Jateng]]></category>
		<category><![CDATA[rembang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://linimedia.com/?p=3597</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rembang, linimedia.com &#8211; Dua korban kecelakaan Bus New...</p>
<p>Artikel <a href="https://linimedia.com/kesaksian-dua-korban-laka-bus-new-shantika-asal-rembang-mencari-istri-kondisi-hamil-tak-ada-di-bus/">Kesaksian Dua Korban Laka Bus New Shantika Asal Rembang, Mencari Istri Kondisi Hamil Tak Ada di Bus</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rembang, linimedia.com</strong> &#8211; Dua korban kecelakaan <a href="https://newshantikabus.co.id/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Bus New Shantika </a>di tol Pemalang- Batang yang berasal Kabupaten Rembang telah selesai menjalani operasi rumah sakit Siaga Medika Pemalang. Sepasang suami istri bernama Masrifatul Umaiya dan Ego Puji Santoso kini menjalani pemulihan di Jaken Pati rumah orang tua dari Ego.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ego saat ditemui di rumahnya yang di Jaken Desa Sidoluhur , Minggu (28/1/2024) mengungkapkan sebelum dan saat <a href="https://linimedia.com/?s=peristiwa+&amp;post_type%5B%5D=post" target="_blank" rel="noreferrer noopener">peristiwa </a>kecelakaan terjadi, dia dan istrinya dalam kondisi tidur. Sehingga tidak tahu bagaimana situasi sebelum kejadian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Sebelum kecelakaan kita bersama penumpang bus lainnya termasuk sopir bus itu makan di Brebes. Kemudian melanjutkan perjalanan, saya ya tidur, istri juga tidur , saya terbangun ketika bus menabrak pembatas jalan tol, setelah itu pingsan, &#8221; ungkapnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" width="680" height="389" data-attachment-id="3599" data-permalink="https://linimedia.com/kesaksian-dua-korban-laka-bus-new-shantika-asal-rembang-mencari-istri-kondisi-hamil-tak-ada-di-bus/whatsapp-image-2024-01-28-at-14-11-56/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2024-01-28-at-14.11.56.jpeg?fit=1600%2C900&amp;ssl=1" data-orig-size="1600,900" data-comments-opened="0" data-image-title="Kesaksian Dua Korban Laka Bus New Shantika Asal Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Kondisi 2 korban suami istri asal Rembang menjalani perawatan di rumah usai operasi. (linimedia/Miftachuss)&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2024-01-28-at-14.11.56.jpeg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2024-01-28-at-14.11.56.jpeg?resize=680%2C389&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-3599" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2024-01-28-at-14.11.56.jpeg?resize=700%2C400&amp;ssl=1 700w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2024-01-28-at-14.11.56.jpeg?zoom=2&amp;resize=700%2C400&amp;ssl=1 1400w" sizes="(max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kondisi 2 korban suami istri asal Rembang menjalani perawatan di rumah usai operasi. (linimedia/Miftachuss)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Warga Desa Karaskepoh Kecamatan Pancur ini kemudian sadar. Saat sadar posisi bus sudah terbalik. Iapun segera mencari istrinya di dalam bus namun tidak ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menceritakan saat mencari istrinya yang sedang hamil satu bulan lebih itu di dalam bus, banyak penumpang yang masih pingsan. Hanya penumpang suami istri dan anaknya yang berada di sebelahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum menemukan istrinya di dalam bus, Iapun berusaha keluar dari Bus. Dan ternyata sang istri sudah berada di luar bus dalam kondisi pingsan dan ditolong oleh warga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saya merangkak ke arah kaca bagian belakang bus karena sudah pecah. Duduk kami di depan di belakang kernet bus, saya sampai kaca bus paling belakang baru dibantu warga, setelah di luar saya melihat istri tidak sadar dibantu warga sepertinya, &#8221; tuturnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="680" height="389" data-attachment-id="3600" data-permalink="https://linimedia.com/kesaksian-dua-korban-laka-bus-new-shantika-asal-rembang-mencari-istri-kondisi-hamil-tak-ada-di-bus/whatsapp-image-2024-01-28-at-14-11-56-1/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2024-01-28-at-14.11.56-1.jpeg?fit=1600%2C900&amp;ssl=1" data-orig-size="1600,900" data-comments-opened="0" data-image-title="Kesaksian Dua Korban Laka Bus New Shantika Asal Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;2 korban selamat Bus New Shantika menceritakan detik-detik kejadian kecelakaan yang menelan banyak korban. (linimedia/Miftachuss)&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2024-01-28-at-14.11.56-1.jpeg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2024-01-28-at-14.11.56-1.jpeg?resize=680%2C389&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-3600" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2024-01-28-at-14.11.56-1.jpeg?resize=700%2C400&amp;ssl=1 700w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2024/01/WhatsApp-Image-2024-01-28-at-14.11.56-1.jpeg?zoom=2&amp;resize=700%2C400&amp;ssl=1 1400w" sizes="(max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption class="wp-element-caption">2 korban selamat Bus New Shantika menceritakan detik-detik kejadian kecelakaan yang menelan banyak korban. (linimedia/Miftachuss)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam video yang beredar di media sosial,&nbsp; kedua korban ini terlihat berada di atas mobil pick up bersama korban lainnya sebelum dibawa ke rumah sakit Comal Baru. Maya terlihat mengenakan pakaian atasan biru sedang bersama Ego.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akibat bus terjun dari jalan tol yang diperkirakan tingginya 15 meter itu. Dua penumpang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka &#8211; luka, sementara Ego mengalami luka robek cukup dalam di bagian kaki kiri, sementara Maya retak bagian engkel kaki dan tulang siku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ego dan Maya naik Bus New Shantika dari Jakarta menuju Rembang. Mereka ke Jakarta untuk menyelesaikan urusan pekerjaan. (Mfc)</p>
<div class="fb-background-color" style="background-color:#ffffff"><div class="fb-comments" style="width:700px" data-href="https://linimedia.com/kesaksian-dua-korban-laka-bus-new-shantika-asal-rembang-mencari-istri-kondisi-hamil-tak-ada-di-bus/" data-numposts="10" data-lazy="true" data-colorscheme="light" data-order-by="social" data-mobile="true"></div></div><div class="alert warning"><strong>External comments notice:</strong> You may need to sign in to the external service to view or post comments.</div><p>Artikel <a href="https://linimedia.com/kesaksian-dua-korban-laka-bus-new-shantika-asal-rembang-mencari-istri-kondisi-hamil-tak-ada-di-bus/">Kesaksian Dua Korban Laka Bus New Shantika Asal Rembang, Mencari Istri Kondisi Hamil Tak Ada di Bus</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3597</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Alasan Covid Rangers Rembang Digaungkan Ganjar Pada Upacara HUT Jateng ke-71</title>
		<link>https://linimedia.com/alasan-covid-rangers-rembang-digaungkan-ganjar-pada-upacara-hut-jateng/</link>
					<comments>https://linimedia.com/alasan-covid-rangers-rembang-digaungkan-ganjar-pada-upacara-hut-jateng/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Linimedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2021 05:20:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[People]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ganjar]]></category>
		<category><![CDATA[Jateng]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://linimedia.com/?p=2116</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rembang &#8211; Relawan peduli pasien covid-19 Rembang yang...</p>
<p>Artikel <a href="https://linimedia.com/alasan-covid-rangers-rembang-digaungkan-ganjar-pada-upacara-hut-jateng/">Alasan Covid Rangers Rembang Digaungkan Ganjar Pada Upacara HUT Jateng ke-71</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img data-recalc-dims="1" decoding="async" width="680" height="453" data-attachment-id="2118" data-permalink="https://linimedia.com/alasan-covid-rangers-rembang-digaungkan-ganjar-pada-upacara-hut-jateng/whatsapp-image-2021-08-15-at-18-33-19/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-15-at-18.33.19.jpeg?fit=1280%2C852&amp;ssl=1" data-orig-size="1280,852" data-comments-opened="1" data-image-title="Covid Rangers Rembang Terenyuh Disebut Ganjar Pada Upacara HUT Jateng" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Dalam upacara ulang tahun Jawa Tengah ke-71 Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sengaja menghadirkan orang-orang yang penuh menginspirasi di tengah pandemi covid-19.&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-15-at-18.33.19.jpeg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-15-at-18.33.19.jpeg?resize=680%2C453&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-2118" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-15-at-18.33.19.jpeg?w=1280&amp;ssl=1 1280w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-15-at-18.33.19.jpeg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Image-2021-08-15-at-18.33.19.jpeg?resize=768%2C511&amp;ssl=1 768w" sizes="(max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Dalam upacara hari ulang tahun Jawa Tengah ke-71 Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sengaja menghadirkan orang-orang yang penuh menginspirasi di tengah pandemi covid-19. (Linimedia/rtw)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rembang </strong>&#8211; Relawan peduli pasien covid-19 Rembang yang tergabung dalam Covid Rangers sempat terharu ketika mendengar nama kelompoknya disebutkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam pidato, saat memimpin upacara peringatan Hari Jadi ke 71 Provinsi Jawa Tengah, Minggu 15 Agustus 2021 kemarin.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><strong>Saya tidak tahu caranya, tapi berkat keseriusan dan kesungguhan akhirnya banyak yang berdonasi karena empati yang luar biasa, saya menyampaikan terimakasih</strong>.</p></blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan dalam upacara hari ulang tahun Jawa Tengah ke-71 dirinya sengaja menghadirkan orang-orang yang penuh menginspirasi di tengah pandemi covid-19. Ada dari tenaga kesehatan yang telah berjuang dengan sepenuh jiwa dan raganya untuk kesembuhan pasien covid-19. </p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kita tidak bisa mengatakan dengan kata-kata yang paling baik, tapi terimalah ketulusan kami untuk mengucapkan terimakasih kepada tenaga kesehatan,&#8221; kata Ganjar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian ada pemuda dari Covid Rangers Rembang yang merupakan kelompok penyintas yang ingin membantu para pasien covid-19 dengan kemampuan seadanya. Ganjar pun terharu mendengar cerita para Covid Rangers Rembang yang sangat mempedulikan kesehatan para pasien covid-19. Tidak hanya membelikan makanan, namun juga memberikan motivasi dan semangat untuk para pasien agar cepat sembuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Ada juga kawan-kawan muda Covid Rangers, para penyintas yang sudah sehat sekarang mau membantu warganya. Saya terharu karena dia ceritakan bahwa enten sing nyuwun bakso Pak, enten sing nyuwun sate tengah wengi, dia berikan. Saya tidak tahu caranya, tapi berkat keseriusan dan kesungguhan akhirnya banyak yang berdonasi karena empati yang luar biasa, saya menyampaikan terimakasih,&#8221; ujarnya.</p>



<figure class="wp-block-video"><video height="640" style="aspect-ratio: 288 / 640;" width="288" controls src="https://linimedia.com/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Video-2021-08-16-at-12.04.28.mp4"></video><figcaption>Cuplikan Live Upacara Peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah ke -71 Tahun 2021</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ditemui usai upacara, Miftachussolichin, salah satu pencetus Covid Rangers di Rembang mengaku tak menyangka gerakan yang diinisiasinya akan diapresiasi penuh oleh Ganjar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Alhamdulillah kita nggak menyangka sama sekali, karena kita nggak pernah berpikir sampai di sini ikut upacara HUT Jawa Tengah yang ke 71 ini,” katanya ditemui di Halaman Kantor Pemprov Jateng, Minggu (15/8/2021)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mifta yang juga pegawai di Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kabupaten Rembang itu menilai hal ini merupakan apresiasi atau penghargaan untuk teman-teman relawan Covid Rangers.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Salah satu penghargaan atau apresiasi buat temen-temen relawan covid rangers yang setiap hari beraksi, ada yang pagi, siang ada yang malem,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Miftah mengaku terharu dan hampir menangis saat mendengar Ganjar menyebut Covid Rangers dalam sambutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kita sempet mbrebes mili gitu ketika kami disebut di dalam sambutan itu. Jadi ingat saat down Bapak berjuang melawan covid-19, terlebih Ibu dirawat 14 hari di ICU covid, ” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mifta berharap, gerakan yang diinisiasinya juga mendorong kesadaran masyarakat Jawa Tengah untuk peduli pada pasien Covid-19. Sebab, kepedulian itu dapat meningkatkan imun mereka. Beberapa orang di kota lain, kata Mifta juga mulai menghubungi covid ranger untuk melakukan hal yang sama. (Linimedia/rtw)</p>
<div class="fb-background-color" style="background-color:#ffffff"><div class="fb-comments" style="width:700px" data-href="https://linimedia.com/alasan-covid-rangers-rembang-digaungkan-ganjar-pada-upacara-hut-jateng/" data-numposts="10" data-lazy="true" data-colorscheme="light" data-order-by="social" data-mobile="true"></div></div><div class="alert warning"><strong>External comments notice:</strong> You may need to sign in to the external service to view or post comments.</div><p>Artikel <a href="https://linimedia.com/alasan-covid-rangers-rembang-digaungkan-ganjar-pada-upacara-hut-jateng/">Alasan Covid Rangers Rembang Digaungkan Ganjar Pada Upacara HUT Jateng ke-71</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://linimedia.com/alasan-covid-rangers-rembang-digaungkan-ganjar-pada-upacara-hut-jateng/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://linimedia.com/wp-content/uploads/2021/08/WhatsApp-Video-2021-08-16-at-12.04.28.mp4" length="5134981" type="video/mp4" />

		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2116</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cerita Dibalik Pembuatan Peti Jenazah Khusus Covid-19 di Rembang</title>
		<link>https://linimedia.com/cerita-dibalik-pembuatan-peti-jenazah-khusus-covid-19-di-rembang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rendy Wibowo]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2021 23:46:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Jateng]]></category>
		<category><![CDATA[rembang]]></category>
		<category><![CDATA[rsud]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://linimedia.com/?p=1808</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rembang – Suasana di Gudang pembuatan peti jenazah...</p>
<p>Artikel <a href="https://linimedia.com/cerita-dibalik-pembuatan-peti-jenazah-khusus-covid-19-di-rembang/">Cerita Dibalik Pembuatan Peti Jenazah Khusus Covid-19 di Rembang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large is-style-default"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="1813" data-permalink="https://linimedia.com/cerita-dibalik-pembuatan-peti-jenazah-khusus-covid-19-di-rembang/whatsapp-image-2021-02-17-at-06-29-47/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47.jpeg?fit=1600%2C900&amp;ssl=1" data-orig-size="1600,900" data-comments-opened="1" data-image-title="Cerita Dibalik Pembuatan Peti Jenazah Khusus Covid-19 di Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Edi Cahyono nampak sibuk sedang mengerjakan peti jenazah khusus covid-19 di RSDU dr. Soetrasno, Rabu 17 Februari 2021. (Linimedia/Rendy Wibowo)&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47.jpeg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47.jpeg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1813" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47.jpeg?w=1600&amp;ssl=1 1600w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47.jpeg?w=1360&amp;ssl=1 1360w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Edi Cahyono nampak sibuk sedang mengerjakan peti jenazah khusus covid-19 di RSDU dr. Soetrasno, Rabu 17 Februari 2021. (Linimedia/Rendy Wibowo)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rembang</strong> – Suasana di Gudang pembuatan peti jenazah di RSUD dr R Soetrasno Rembang terlihat nampak sibuk. Para pekerja sibuk membuat peti yang diperuntukkan bagi jenazah Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mulai dari memotong lembaran papan kayu, membuat kerangka peti, hingga mengecat peti. Setelah peti jenazah sudah jadi, para pekerja terlihat langsung menggotong dan membawanya ke kamar jenazah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu pekerja pembuat peti jenazah Covid-19, Edi Cahyono 28 tahun mengatakan pembuatan peti jenazah di RSUD dr. Soetrasno mulai dilakukan sejak awal Juni tahun 2020 lalu. Meningkatnya kasus kematian diakibatkan Covid-19 pada saat itu, memaksa para pekerja harus bekerja ekstra untuk memproduksi peti jenazah.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><strong>Terkadang kalau mepet ya langsung kita buat peti dadakan. Malem-malem pernah jam 23.00 WIB pernah, jam 01.00 WIB dini hari juga pernah</strong>.</p></blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Ia mengaku sebenarnya para pekerja pembuat peti adalah pekerja pemelihara gedung. Dikarenakan dalam situasi pandemi, mereka terpaksa merangkap sebagai pembuat peti jenazah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sebelumnya kita kerjanya mengecat gedung RSUD dr. Soetrasno, awal mulanya sebelum membuat peti jenazah Covid-19,” kata Edi Cahyono, Rabu 17 Februari 2021.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum memproduksi peti jenazah sendiri, kata dia, RSUD dr. Soetrasno sempat beli jadi peti jenazah dengan harga per petinya Rp. 1,5 juta. Tentu jika hal itu terus dilakukan pasti akan menguras anggaran RSUD dr. Soetrasno.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, untuk menghemat biaya, para pekerja pemelihara gedung diberi tugas tambahan untuk membuat peti jenazah Covid-19. Benar saja, dengan langkah tersebut pihak RSUD mampu memproduksi 8 buah peti jenazah dengan biaya hanya sekitar Rp. 1 jutaan saja. Itu pun sudah termasuk ongkos bahan dan jasa pembuatan untuk para pekerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kurang lebih biayanya Rp. 1 juta untuk membuat peti, itu sudah termasuk bahan dan ongkos pengerjaan. Tapi dalam sehari itu bisa memproduksi 8 peti, tapi kalau beli jadi satunya harganya Rp 1,5 juta” jelasnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-style-default"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="1811" data-permalink="https://linimedia.com/cerita-dibalik-pembuatan-peti-jenazah-khusus-covid-19-di-rembang/whatsapp-image-2021-02-17-at-06-29-47-2/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-2.jpeg?fit=1600%2C900&amp;ssl=1" data-orig-size="1600,900" data-comments-opened="1" data-image-title="Cerita Dibalik Pembuatan Peti Jenazah Khusus Covid-19 di Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Proses pembuatan peti jenazah Covid-19 di RSUD dr. Soetrasno. (Linimedia/Rendy Wibowo)&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-2.jpeg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-2.jpeg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1811" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-2.jpeg?w=1600&amp;ssl=1 1600w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-2.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-2.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-2.jpeg?w=1360&amp;ssl=1 1360w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Proses pembuatan peti jenazah Covid-19 di RSUD dr. Soetrasno. (Linimedia/Rendy Wibowo)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Karena merangkap sebagai pembuat peti, para pekerja tersebut juga dituntut harus siap kapan pun jika diminta untuk membuat peti jenazah. Dirinya pun pernah mengalami, karena persediaan peti jenazah habis, ia diminta untuk membuat peti jenazah pada pukul 01.00 WIB dini hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kita persediaan peti jenazah, tapi terkadang kalau mepet ya langsung kita buat peti dadakan. Malem-malem pernah jam 23.00 WIB pernah, jam 01.00 WIB juga pernah,” bebernya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Edi menjelaskan, berbeda dengan peti jenazah pada umumnya, peti jenazah untuk Covid-19 memiliki spesifikasi khusus. Bagian atas dan bawah peti jenazah menggunakan papan kayu dengan tebal 1 cm.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian untuk bagian samping kanan, kiri, depan dan belakang peti jenazah menggunakan papan kayu tebal 2 cm. Sedangkan kerangka peti jenazah menggunakan kayu berdiameter 2&#215;3 cm.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Untuk ukurannya sudah ada standarnya, mulai dari tebal bagian atap dan bawah, terus samping kanan, kiri, depan dan belakang,” bebernya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-style-default"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="1810" data-permalink="https://linimedia.com/cerita-dibalik-pembuatan-peti-jenazah-khusus-covid-19-di-rembang/whatsapp-image-2021-02-17-at-06-29-47-3/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-3.jpeg?fit=1600%2C900&amp;ssl=1" data-orig-size="1600,900" data-comments-opened="1" data-image-title="Cerita Dibalik Pembuatan Peti Jenazah Khusus Covid-19 di Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Edy Cahyono membawa peti ukuran kecil yang sudah jadi ker ruang jenazah RSUD dr. Soetrasno. (Linimedia/Rendy Wibowo)&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-3.jpeg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-3.jpeg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1810" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-3.jpeg?w=1600&amp;ssl=1 1600w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-3.jpeg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-3.jpeg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2021-02-17-at-06.29.47-3.jpeg?w=1360&amp;ssl=1 1360w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Edy Cahyono membawa peti ukuran kecil yang sudah jadi ker ruang jenazah RSUD dr. Soetrasno. (Linimedia/Rendy Wibowo)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ukuran peti jenazah yang dibuat di RSUD dr. Soetrasno juga memiliki ukuran yang berbeda-beda. Mulai dari ukuran peti yang normal, sedang, kecil hingga ekstra besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ukuran anak-anak juga ada, ukuran dewasa, sama ukuran jumbo. Kalau standarnya atau yang normal ukurannya 190 x 60 cm. Kalau yang ukuran terbesar 2 meter x 65 cm,” terangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dirinya menambahkan, jika ditotal, hingga saat ini peti jenazah yang telah diproduksi sendiri oleh RSUD dr. Soestrasno mencapai 200 peti lebih. Tidak hanya untuk penggunaan pribadi saja, Kabupaten tetangga seperti Pati dan Blora juga pernah membeli peti jenazah buatan RSUD dr. Soestrasno.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dari Pati juga sering mengambil peti dari sini, Blora juga pernah mengambil beberapa kali,” imbuhnya.</p>
<div class="fb-background-color" style="background-color:#ffffff"><div class="fb-comments" style="width:700px" data-href="https://linimedia.com/cerita-dibalik-pembuatan-peti-jenazah-khusus-covid-19-di-rembang/" data-numposts="10" data-lazy="true" data-colorscheme="light" data-order-by="social" data-mobile="true"></div></div><div class="alert warning"><strong>External comments notice:</strong> You may need to sign in to the external service to view or post comments.</div><p>Artikel <a href="https://linimedia.com/cerita-dibalik-pembuatan-peti-jenazah-khusus-covid-19-di-rembang/">Cerita Dibalik Pembuatan Peti Jenazah Khusus Covid-19 di Rembang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1808</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Asal Usul Lokalisasi Lorong Indah Yang Melegenda di Pati</title>
		<link>https://linimedia.com/asal-usul-lokalisasi-lorong-indah-yang-melegenda-di-pati/</link>
					<comments>https://linimedia.com/asal-usul-lokalisasi-lorong-indah-yang-melegenda-di-pati/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rendy Wibowo]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2021 05:09:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[lokalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[lorong indah]]></category>
		<category><![CDATA[pati]]></category>
		<category><![CDATA[prostitusi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://linimedia.com/?p=1755</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pati &#8211; Siapa yang tak kenal dengan tempat...</p>
<p>Artikel <a href="https://linimedia.com/asal-usul-lokalisasi-lorong-indah-yang-melegenda-di-pati/">Asal Usul Lokalisasi Lorong Indah Yang Melegenda di Pati</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large is-style-default"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="423" data-attachment-id="1762" data-permalink="https://linimedia.com/asal-usul-lokalisasi-lorong-indah-yang-melegenda-di-pati/whatsapp-image-2019-12-04-at-10-27-29-am_crop_376x234-2/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2019-12-04-at-10.27.29-AM_crop_376x234-1.jpeg?fit=1234%2C768&amp;ssl=1" data-orig-size="1234,768" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Asal Usul Lokalisasi Lorong Indah Yang Melegenda di Pati" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Wanita penghibur di lokasilasi LI saat dites narkoba. (Linimedia/istimewa)&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2019-12-04-at-10.27.29-AM_crop_376x234-1.jpeg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2019-12-04-at-10.27.29-AM_crop_376x234-1.jpeg?resize=680%2C423&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1762" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2019-12-04-at-10.27.29-AM_crop_376x234-1.jpeg?w=1234&amp;ssl=1 1234w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2019-12-04-at-10.27.29-AM_crop_376x234-1.jpeg?resize=300%2C187&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/WhatsApp-Image-2019-12-04-at-10.27.29-AM_crop_376x234-1.jpeg?resize=768%2C478&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Wanita penghibur di lokasilasi Lorong Indah (LI) saat dites narkoba. (Linimedia/istimewa)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pati </strong>&#8211; Siapa yang tak kenal dengan tempat lokalisasi yang satu ini, yap Lorong Indah (LI) yang ada di Kabupaten Pati. Tempat dimana para gadis-gadis pantura menjajakan tubuhnya untuk memuaskan hasrat birahi para laki-laki hidung belang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak disangka, lokalisasi LI ternyata merupakan lokalisasi terbesar di Kabupaten Pati, bahkan diantara kabupaten sekitar. Meski begitu, belum banyak yang tahu, sejak kapan tempat prostitusi ini berdiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk diketahui, tempat prostitusi ini berlokasi di tengah persawahan Desa/Kecamatan Margorejo, dan jauh dari permukiman penduduk. Terletak sejauh 4,3 kilometer dari pusat kota Pati, dengan jarak tempuh sekitar 15 menit.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-large is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><strong>Awalnya Pak Saru, lalu berkembang ada warga lain yang mendirikan warung makan. Lalu hadir wanita penghibur</strong>.</p></blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Salah seorang pemerhati sejarah di wilayah setempat, Setyo Budi Wibowo, mengatakan tempat pelesir para lelaki hidung belang ini mulai dikenal sejak tahun 1998. Didirikan oleh seorang tokoh bernama Saru, tempat prostitusi ini bermula dari warung kecil di lahan kosong seluas 1 hektare di tengah sawah.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-style-default"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="382" data-attachment-id="1757" data-permalink="https://linimedia.com/asal-usul-lokalisasi-lorong-indah-yang-melegenda-di-pati/img-20200829-wa0003/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0003.jpg?fit=1040%2C584&amp;ssl=1" data-orig-size="1040,584" data-comments-opened="1" data-image-title="Asal Usul Lokalisasi Lorong Indah Yang Melegenda di Pati" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Suasana malam Lorong Indah (LI). (Linimedia/istimewa)&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0003.jpg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0003.jpg?resize=680%2C382&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1757" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0003.jpg?w=1040&amp;ssl=1 1040w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0003.jpg?resize=300%2C168&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0003.jpg?resize=768%2C431&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Suasana malam tempat lokalisasi Lorong Indah (LI). (Linimedia/istimewa)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Melihat sejarah pada tahun 1998, tepatnya saat krisis moneter menerjang Indonesia yang menyebabkan inflasi rupiah besar-besaran. Terjadi kenaikan harga bahan pokok yang mengakibatkan terjadinya kerusuhan dan kekacauan pada kala itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kerusuhan tidak hanya terjadi di kota besar saja, tetapi merambah di sejumlah daerah, termasuk di kabupaten berjuluk Bumi Mina Tani ini. Di Pati, kerusuhan menjalar ke berbagai wilayah hingga ke kompleks prostitusi Bletek turut Dukuh Bertek, Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo, yang dirusak dan dibakar massa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“LI ada sejak 1998, pada era krisis, pasca pembumihangusan lokalisasi Bletek. Saat itu Bletek dirusak dan dibakar massa,” kenang&nbsp; Setyo Budi Wibowo, Sabtu 13 Februari 2021.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pasca lokalisasi Bletek rata dengan tanah, sebagian penghuninya memutuskan untuk kembali ke daerah asal. Sisanya tetap menggantungkan hidup dengan menjajakan diri, karena ekonomi yang jatuh habis-habisan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-style-default"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="468" data-attachment-id="1763" data-permalink="https://linimedia.com/asal-usul-lokalisasi-lorong-indah-yang-melegenda-di-pati/img-20200829-wa0005-2/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0005-1.jpg?fit=1280%2C880&amp;ssl=1" data-orig-size="1280,880" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Asal Usul Lokalisasi Lorong Indah Yang Melegenda di Pati" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Suasana malam Lorong Indah (LI). (Linimedia/istimewa)&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0005-1.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0005-1.jpg?resize=680%2C468&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1763" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0005-1.jpg?w=1280&amp;ssl=1 1280w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0005-1.jpg?resize=300%2C206&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/IMG-20200829-WA0005-1.jpg?resize=768%2C528&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Suasana malam Lorong Indah (LI). (Linimedia/istimewa)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian para penghuni lokalisasi Bletek yang bertahan, memutuskan untuk bergeser mangkal di lahan kosong tengah persawahan dekat dengan warung kecil milik pak Saru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sebenarnya, LI sudah ada jauh sebelum Bletek dibinasakan. Hanya saja, berupa warung milik Pak Saru itu. Para Wanita Tuna Susila (WTS) Bletek sebagian pindah ke situ juga,” ucapnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lokasi itu pun lambat laun dikenal dengan istilah Lorog Indah, dan akhirnya dikenal luas di dunia hiburan malam. Kini masyhur dengan nama Lorong Indah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dulu namanya Lorog Indah, bukan Lorong Indah. Lorog itu bahasa daerah sini, atau bisa diartikan lahan kosong. Mungkin diganti Lorong Indah karena nama itu lebih menjual,” ungkap kakek berusia 71 tahun itu.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-style-default"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="382" data-attachment-id="1759" data-permalink="https://linimedia.com/asal-usul-lokalisasi-lorong-indah-yang-melegenda-di-pati/lorong-indah-di-pati/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/Lorong-Indah-Di-Pati.jpg?fit=1040%2C584&amp;ssl=1" data-orig-size="1040,584" data-comments-opened="1" data-image-title="Asal Usul Lokalisasi Lorong Indah Yang Melegenda di Pati" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/Lorong-Indah-Di-Pati.jpg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/Lorong-Indah-Di-Pati.jpg?resize=680%2C382&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1759" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/Lorong-Indah-Di-Pati.jpg?w=1040&amp;ssl=1 1040w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/Lorong-Indah-Di-Pati.jpg?resize=300%2C168&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2021/02/Lorong-Indah-Di-Pati.jpg?resize=768%2C431&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>lokalisasi Lorong Indah (LI). (Linimedia/istimewa)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pelan tapi pasti, lahan ini berkembang pesat, pasca kerusuhan Bletek sampai sekarang. Hingga pada tahun 2021 ini, tercatat jika kompleks ini memiliki lebih dari 200 kepala keluarga (KK).</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Awalnya Pak Saru, lalu berkembang ada warga lain yang mendirikan warung makan. Lalu hadir wanita penghibur. Ada pula warung makan yang membuat bilik-bilik kamar juga saat itu,” jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terhitung ada sejumlah gang di tempat ini, di situ berjejer bangunan yang kebanyakan diperuntukkan untuk cinta satu malam. Disamping, toko-toko yang menjual keperluan sehari-hari bagi warga setempat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penghuninya sendiri, tidak sedikit yang berasal dari luar daerah. Dan tidak hanya didominasi dari Pati. Sehingga menimbulkan keanekaragaman interaksi sosial.</p>
<div class="fb-background-color" style="background-color:#ffffff"><div class="fb-comments" style="width:700px" data-href="https://linimedia.com/asal-usul-lokalisasi-lorong-indah-yang-melegenda-di-pati/" data-numposts="10" data-lazy="true" data-colorscheme="light" data-order-by="social" data-mobile="true"></div></div><div class="alert warning"><strong>External comments notice:</strong> You may need to sign in to the external service to view or post comments.</div><p>Artikel <a href="https://linimedia.com/asal-usul-lokalisasi-lorong-indah-yang-melegenda-di-pati/">Asal Usul Lokalisasi Lorong Indah Yang Melegenda di Pati</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://linimedia.com/asal-usul-lokalisasi-lorong-indah-yang-melegenda-di-pati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1755</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cerita Muyin, Pasien Pertama di Rembang Yang Sembuh Dari Covid-19</title>
		<link>https://linimedia.com/cerita-muyin-pasien-pertama-di-rembang-yang-sembuh-dari-covid-19/</link>
					<comments>https://linimedia.com/cerita-muyin-pasien-pertama-di-rembang-yang-sembuh-dari-covid-19/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rendy Wibowo]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2020 10:31:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://linimedia.com/?p=1474</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rembang &#8211; Siang itu panas tak begitu menyengat, karna...</p>
<p>Artikel <a href="https://linimedia.com/cerita-muyin-pasien-pertama-di-rembang-yang-sembuh-dari-covid-19/">Cerita Muyin, Pasien Pertama di Rembang Yang Sembuh Dari Covid-19</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="382" data-attachment-id="1476" data-permalink="https://linimedia.com/cerita-muyin-pasien-pertama-di-rembang-yang-sembuh-dari-covid-19/20200401141712_img_0649/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200401141712_IMG_0649.jpg?fit=720%2C404&amp;ssl=1" data-orig-size="720,404" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;2.5&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon PowerShot G7 X Mark II&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1585750632&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;15.06&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;500&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.02&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Cerita Muyin, Pasien Asal Rembang Pertama Yang Sembuh Dari Covid-19" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Muyin saat menceritakan kisahnya di ruang tamu rumahnya.&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200401141712_IMG_0649.jpg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200401141712_IMG_0649.jpg?resize=680%2C382&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1476" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200401141712_IMG_0649.jpg?w=720&amp;ssl=1 720w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200401141712_IMG_0649.jpg?resize=300%2C168&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Muyin saat menceritakan kisahnya di ruang tamu rumahnya.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rembang</strong> &#8211; Siang itu panas tak begitu menyengat, karna sebagian langit Rembang tertutup oleh awan mendung. Kondisi cuaca yang cukup bersahabat, mengantar Linimedia menuju ke sebuah desa terdampak Covid-19 yaitu desa Megal di Kecamatan Pamotan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Letak desa Megal berjarak 21 kilometer dari pusat kota Rembang, atau butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke desa itu. Akses jalan menuju ke desa Megal usai melintasi jalan Rembang &#8211; Blora tergolong sempit. Hanya cukup untuk satu kendaraan roda empat dan agak susah jika terjadi simpangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hamparan hijau tanaman padi dan tebu mengiringi perjalanan Linimedia menempuh jalan melintasi jalan pedesaan menggunakan sepeda motor hingga sampai ke desa itu. Angka digital pada jam tangan menunjukan pukul 13.40 WIB. Akhirnya Linimedia sampai di gapura masuk desa Megal. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Akses jalan masuk desa itu terlihat berbeda. Jalan desa Megal terbuat dari susunan paving blok atau conblock yang terlihat baru saja dibangun, meski belum selesai secara keseluruhan. Berjarak kurang lebih 300 meter menyusuri jalan conblock dari gapura pintu masuk desa, Linimedia sampai di sebuah balai desa dengan bangunan pendopo kecil yang nampak teduh dibawah pohon besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suasana di Desa Megal sendiri masih terlihat seperti sediakala, yakni tak terlihat raut wajah cemas atau ketakutan dari warganya. dalam hal ini semua warga Desa Megal masih melakukan aktivitasnya seperti biasa dan juga terlihat beberapa anak – anak masih bermain dan bersepeda lalu lalang di sekitar rumah&nbsp;warga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari balai desa itu, Linimedia mencoba menelusuri rumah pasien Covid-19 yang diketahui bernama Muyin 29 tahun yang berhasil sembuh dan pulang pada 31 Maret 2020 lalu. Tidak terlalu sulit untuk menemukan rumahnya. Wajar karena ciri-ciri rumahnya dapat diketahui dari foto yang banyak beredar di media sosial dan ramai diperbincangkan kemarin malam saat pasien pulang ke rumahnya</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berjarak kurang lebih 120 meter dari balai desa, sebuah tenda biru sederhana yang berdiri didepan rumah rumah kecil nampak dari kejauhan. Setelah dihampiri, ternyata benar rumah tersebut sama persis dengan foto yang beredar di media sosial semalam saat penyambutan kedatangan dirinya dari RSUD Wongsonegoro Semarang, tempat dimana pasien menjalani perawatan setelah dirinya dinyatakan positif Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sisa kemeriahan masih terlihat saat warga desa menyambut kepulangan pasien pada malam itu. Dari banyaknya tumpukan kursi plastik yang diletakkan diteras rumah dan teratak yang masih berdiri tegak diatas jalan desa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dirumah yang tergolong sederhana dengan dinding tembok dari susunan batako yang masih belum dikuliti itu, Linimedia  sudah ditunggu oleh Kepala desa Megal Ikha Pudiyanti. Karena sebelumnya Linimedia telah meminta ijin untuk melakukan peliputan di desanya dan pihak kepala desa bersedia untuk mendampingi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat Muyin keluar setelah di panggil Ikha, dari dari ruang tamu nampak pemuda dengan wajah yang segar mengenakan kaos berwarna hitam dengan kombinasi lengan warna abu-abu dan celana pendek menyapa Linimedia dan mempersilahkan masuk ke ruang tamunya. Tidak nampak raut muka yang kebingungan saat media mendatangi rumahnya yang terletak disudut pertigaan itu. Wajar karena Muyin sudah tidak asing lagi dengan kedatangan media dirumahnya karena pada malam kepulangannya kerumah, selain warga juga banyak media yang melakukan peliputan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diruang tamu dengan ukuran kurang lebih 3&#215;3 meter dengan meja kursi terbuat dari kayu dan beralaskan tanah, Muyin didampingi kepala desa dan sekretaris desa yang duduk di satu kursi panjang mulai menceritakan awal mula dirinya tertular Covid-19 hingga pengalamannya saat dirawat usai dinyatakan positif Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Niat Menolong Malah Terjangkit Covid-19</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Muyin bekerja sebagai kuli bangunan disebuah proyek di Bali. Dirinya bersama pekerja lainnya dari berbagai daerah tinggal disebuah rumah kontrakan tidak jauh dari lokasi proyek. Pada tanggal 14 Maret 2020, salah seorang teman Muyin dikontrakkan mengeluh sakit demam. Merasa kasihan, sebagai rekan kerja yang merantau dari jawa, Muyin mengantarkan temannya asal Jember itu pergi ke rumah sakit untuk berobat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Bilangnya badannya panas dingin, minta diantar ke rumah sakit. Karena kasihan ya saya antar ke rumah sakit,&#8221; ucapnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Muyin tidak tahu jika temannya itu terinfeksi Covid-19, yang ia tahu penyakit temannya itu hanya demam biasa. Usai mengantarkan temannya, Muyin pulang ke kontrakannya. Sedangkan temannya masih berada dirumah sakit.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Setelah saya antar, saya terus pulang ke kontrakan sendiri, dia (temannya) masih dirawat di rumah sakit,&#8221; jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keesokan harinya Muyin bersiap-siap untuk pulang ke Rembang karena sudah tiga bulan dirinya meninggalkan kampung halaman, disamping proyek yang ia kerjakan juga sudah selesai. Hanya bermodal ongkos perjalanan pulang, Muyin tetap memutuskan pulang meski belum mendapat bayaran dari proyek yang ia kerjakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Karena sudah rindu keluarga di rumah, cuma bawa uang untuk sekali perjalanan ya sudah tidak apa-apa yang penting sampai rumah,&#8221; ucapnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Muyin Ditetapkan Sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesampainya di rumah, Senin 16 Maret 2020 pagi, Muyin merasa sesak nafas dan badannya panas dingin. Melihat anaknya sakit, orang tua Muyin kemudian memberikan obat demam agar penyakitnya segera sembuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Orang tua saya memberi obat Bodrex dan Migsagrip saat saya mengeluh sesak nafas dan panas dingin,&#8221; jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alih-alih sembuh, obat yang telah ia minum tidak bereaksi sedikitpun. Dirinya masih mengalami sesak nafas dan demam tinggi. Takut terjadi apa-apa, sore harinya Muyin dibawa orang tuanya ke klinik. Setelah diperikasa, Muyin langsung diberi surat rujukan ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Rembang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah tiba di RSUD Rembang dirinya langsung menjalani foto rontgen dan harus menununggu selama berjam-jam untuk mengetahui hasilnya. Dirinya tidak menyadari jika tubuhnya telah terinfeksi Covid-19, yang ia tahu hanya sakit demam biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Di Rembang itu dironsen, habis dironsen nunggu beberapa jam lagi terus dibawa ke Semarang,&#8221; katannya dengan lugu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah ditetapkan sebagai Sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) oleh pihak RSUD Rembang, Muyin langsung dibawa ke Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang untuk dilakukan perawatan lebih lanjut. Dari sanalah dirinya baru mengetahui bahwa tubuhnya terjangkit Covid-19. &#8220;saya sempat stres, depresi gara – gara itu mas,&#8221; ucap Muyin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setibanya di Rumah Sakit Wongsonegoro, lantunan sholawat terus ia ucapkan tanpa henti. Wajar, karena penyakit yang ia derita merupakan wabah mematikan yang saat ini telah melanda seluruh wilayah bumi Ibu Pertiwi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saat tiba didepan pintu masuk Rumah Sakit Wongsonegoro saya baca sholawatan terus menerus sampai ke ruang isolasi,&#8221; tuturnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Berada Di Ruang Isolasi PDP</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada hari pertama ia masuk ruang isolasi, Muyin mengaku ditempatkan diruang isolasi nomor satu. Sebuah ruangan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Dalam satu ruangan isolasi diisi empat pasien dengan status penyakit yang sama yaitu PDP. Disana ia bersama pasien laki-laki dari berbagai daerah termasuk Semarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat kebosanan menyerang Muyin biasa mengajak ngobrol teman satu ruangan, meski usianya jauh lebih tua darinya. Entah berbicara soal awal mula terkena Covid-19, tentang kerjaan bahkan keadaan keluarga di kampung halaman. Yang terpenting untuk mengurangi stres yang ia alami ketika masuk ruang isolasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Karena sesama laki-laki, saya ngobrol dengan mereka, ada pasien dari semarang, katanya gejalanya sakit mag sama tipes,&#8221; terangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pasien yang ada di ruang isolasi, lanjut Muyin, tidak diperkenankan keluar masuk ruangan. Pihak rumah sakit sudah menyediakan bell didalam ruangan yang fungsinya untuk memanggil perawat dan membawakan apa yang pasien butuhkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Waktu itu ada bapak-bapak (pasien) yang keluar masuk ruangan. Harusnya dia pencet bell, kemudian dia ditegasin sama perawatnya &#8221; pak jangan keluar masuk, kalau butuh apa-apa pencet bell saja&#8221; ,&#8221; ucap Muyin.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Satu Ruangan Dengan Pasien Wanita Semua</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah beberapa hari dirawat, hasil tes swab menunjukan Muyin positif Covid-19. Ia kemudian dipindahkan ke ruangan isolasi nomor dua yang isinya sesama pasien positif Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah beruntung atau tidak, laki-laki desa yang keseharian mencari rumput untuk pakan sapi saat di rumah ini berada dalam ruangan yang isi pasiennya wanita semua. Pria lugu ini hanya terdiam saat melihat sekelilingnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saat dipindah dari ruangan satu ke ruangan dua, disana pasiennya cewek semua. Saya bingung, kenapa di dindah satu ruangan dengan cewek-cewek,&#8221; kata Muyin dengan lugu.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="381" data-attachment-id="1478" data-permalink="https://linimedia.com/cerita-muyin-pasien-pertama-di-rembang-yang-sembuh-dari-covid-19/20200401140636_img_0648/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200401140636_IMG_0648.jpg?fit=960%2C538&amp;ssl=1" data-orig-size="960,538" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;4&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon PowerShot G7 X Mark II&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1585749996&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;36.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;125&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.01&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Cerita Muyin, Pasien Asal Rembang Pertama Yang Sembuh Dari Covid-19" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Muyin bersama ibu kepala desa megal saat berada di teras rumahnya.&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200401140636_IMG_0648.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200401140636_IMG_0648.jpg?resize=680%2C381&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1478" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200401140636_IMG_0648.jpg?w=960&amp;ssl=1 960w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200401140636_IMG_0648.jpg?resize=300%2C168&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200401140636_IMG_0648.jpg?resize=768%2C430&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Muyin bersama ibu kepala desa megal saat berada di teras rumahnya.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Hari demi hari Muyin lalui dengan menonton televisi yang menyala selama 24 jam hanya dengan satu chanel saja dan bermain ponsel yang ia bawa. Dukungan serta motifasi dari pemerintah desa dan masyarakat Megal selalu diberikan melalui video call. Bahkan hampir setiap hari Muyin mendapat Video call.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kalau pagi biasanya dari Bu Kades, dari perangkat desa. Nanti kalau malam sama keluarga sama teman juga,&#8221; ujar Muyin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski bukan murni karena kesalahannya, Muyin juga merasa bersalah ketika 23 orang di desanya juga ikut terpapar Covid-19 saat berinteraksi dengannya dan ditetapkan sebagai orang dalam pengawasan (ODP). Melalui video call dengan keluarganya dirinya mengakui kesalahannya karena telah membuat gempar seisi desa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Waktu saya vidio call sama ibuk saya sampaikan pasti gara-gara saya nggih buk Megal jadi gempar,&#8221; kata Muyin dengan raut wajah bersalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pihak rumah sakit, lanjut dia, secara rutin memberikan pelayanan selama 24 jam. Mulai dari Pukul 06.00 WIB, 12.00 WIB, dan 24.00 WIB perawat memberikan pelayanan yakni pemberian oksigen dan memberi semangat kepada semua pasien yang diisolasi diruangan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernah ada dalam benaknya untuk mencoba mengobrol dengan pasien lainnya untuk mengusir kejenuhan. Namun karena sifatnya yang malu-malu akhirnya dirinya memutuskan untuk diam saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Isinya perempuan semua, mau ngajak ngobrol ya malu, kalau diajak bicara saya baru ngomong. Tapi kalau tidak ya tidak bicara,&#8221; kata Muyin dengan wajah malu-malu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Muyin tidak sendirian di Rumah Sakit Wongsonegoro, ia ditemani kerabatnya dari Rembang yang senantiasa menunggu diluar ruang isolasi dan memberikan keperluan Muyin. Meski mendampingi Muyin di Rumah Sakit Wongsonegoro, kerabatnya tidak diijinkan untuk masuk ruangan bahkan hanya sekedar melihat wajah Muyin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kalau saya butuh sesuatu saya hubungi lewat whatsapp, nanti waktu mau mengasihkan harus lewat perawatnya dulu, baru diberikan ke saya,&#8221; ucap dia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selasa 31 Maret 2020, Muyin telah dinyatakan sembuh dari Covid-19 dan diperbolehkan kembali ke kampung halaman. Sesampainya di rumah, Selasa malam, ia langsung disambut warga desa dengan ucapan rasa syukur karena telah dinyatakan negatif Covid-19 berdasarkan hasil tes swab terakhir. Tidak hanya itu, kegembiraan Muyin semakin bertambah ketika mendengar ke 23 warga Megal yang sebelumnya berstatus ODP telah dinyatakan negatif Covid-19 semuanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dirinya pun memberi pesan kepada pasien yang sedang berjuang melawan Covid-19 agar tetap terus berjuang dan berdoa. Jangan sampai pesimis dan takut yang mendalam dalam menghadapi penyakit Covid-19 ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Sampai depan rumah saya langsung sujud syukur di depan pintu, karena semua permasalahan yang saya alami dengan penyakit corona ini sudah selesai. Untuk teman-teman yang masih berjuang, tetap semangat dan terus berdoa meminta agar penyakit yang diderita cepat diangkat, &#8221; jelas dia.</p>
<div class="fb-background-color" style="background-color:#ffffff"><div class="fb-comments" style="width:700px" data-href="https://linimedia.com/cerita-muyin-pasien-pertama-di-rembang-yang-sembuh-dari-covid-19/" data-numposts="10" data-lazy="true" data-colorscheme="light" data-order-by="social" data-mobile="true"></div></div><div class="alert warning"><strong>External comments notice:</strong> You may need to sign in to the external service to view or post comments.</div><p>Artikel <a href="https://linimedia.com/cerita-muyin-pasien-pertama-di-rembang-yang-sembuh-dari-covid-19/">Cerita Muyin, Pasien Pertama di Rembang Yang Sembuh Dari Covid-19</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://linimedia.com/cerita-muyin-pasien-pertama-di-rembang-yang-sembuh-dari-covid-19/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1474</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi</title>
		<link>https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/</link>
					<comments>https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rendy Wibowo]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2020 11:23:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://linimedia.com/?p=1440</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rembang &#8211; Tiongkok kecil Heritage dan batik tulis selama...</p>
<p>Artikel <a href="https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/">Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="510" data-attachment-id="1441" data-permalink="https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/img-20200121-wa0061/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200121-WA0061.jpg?fit=820%2C615&amp;ssl=1" data-orig-size="820,615" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Kue yopia milik keluarga Tony  Haryanto penerus generasi ke 4 &lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200121-WA0061.jpg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200121-WA0061.jpg?resize=680%2C510&#038;ssl=1" alt="Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi" class="wp-image-1441" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200121-WA0061.jpg?w=820&amp;ssl=1 820w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200121-WA0061.jpg?resize=300%2C225&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200121-WA0061.jpg?resize=768%2C576&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Kue yopia milik keluarga Tony  Haryanto penerus generasi ke 4 </figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rembang</strong> &#8211; Tiongkok kecil Heritage dan batik tulis selama ini menjadi salah satu yang paling dikenal oleh masyarakat luas dari Lasem, sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang. Tidak banyak yang tahu bahwa di daerah Lasem khususnya Desa Karangturi memiliki sebuah industri rumahan yang membuat jajanan khas yang otentik sejak ratusan tahun silam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Panganan tersebut yakni Kue Yopia, kue kering berkulit tipis dengan isian gula Jawa. Mungkin bisa dibilang yopia merupakan penggabungan akulturasi kuliner Tiongkok dengan Jawa. Jika dilihat dari kulitnya saja dibuat menggunakan bahan terigu khas makanan Tiongkok, sedangkan isiannya menggunakan gula aren yang begitu identik dengan kuliner Jawa<br>Sekilas, yopia mirip nopia khas Banyumas atau bakpia dari Yogyakarta, meski nggak bisa dibilang serupa karena kue ini lebih berongga dan besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Merasa penasaran <a href="http://linimedia.com" data-type="URL" data-id="http://linimedia.com">Linimedia</a> mencoba mengunjungi langsung ke lokasi pembuatan kue legendaris yang masih eksis hingga sekarang. Tidak terlalu sulit untuk menemukan  lokasi pembuatan kue yopia saat menuju ke Desa Karangturi. Saat bertanya kepada warga setempat, mereka langsung tahu dan menunjukan lokasi pembuatan kue yopia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ditunjukan warga, didapati rumah dengan dikelilingi pagar yang terbuat dari seng (besi tipis yang berlapis timah). Saat memasuki tempat produksi yopia, nampak bangunan rumah tua yang memiliki arsitektur cina dengan dinding kayu-kayu tuanya dan anjing penjaga yang merupakan peliharaan wajib warga tionghoa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak lama kemudian, seorang wanita tua dengan potongan rambut pendek yang mengenakan pakaian daster biru keluar rumah dan menyapa dengan ramah. Kami dipersilahkan duduk dikursi panjang yang terbuat dari kayu didepan rumah miliknya. </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="1443" data-permalink="https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/img-20200123-wa0016/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0016.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt; Waras, wanita usia 74 tahun itu merupakan generasi 3 yang meneruskan usaha pembuatan kue yopia secara turun menurun&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0016.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0016.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi" class="wp-image-1443" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0016.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0016.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0016.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption> Waras, wanita usia 74 tahun itu merupakan generasi 3 yang meneruskan usaha pembuatan kue yopia secara turun menurun</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dia bernama Waras, wanita usia 74 tahun itu merupakan generasi 3 yang meneruskan usaha pembuatan kue yopia secara turun menurun. Dengan nada lembut dan senyum yang terpancar, dirinya menerangkan perjalanannya dalam mempertahankan kue yopia tetap eksis dari masa ke masa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Waras menerangkan, kue yopia merupakan warisan yang diteruskan secara turun menurun oleh sang mbah buyut Tan tjiem Liang yang merupakan generasi pertama sejak ratusan tahun yang lalu. Usaha pembuatan kue ini awalnya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan menghidupi keluarga sehari-hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Mbah sama orang tua saya dulu tidak pernah bercerita sejarah kue ini bagaimana, bilangnya cuma usaha ini buat makan sehari-hari, tidak perlu cari kerjaan lain, gitu aja pesannya,&#8221; kata Waras.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dahulu kala pembuatan kue yopia menggunakan alat-alat tradisional, seperti pangangan kue yang menggunakan bahan bakar arang, cap produk yang terbuat dari kayu yang diukir berbentuk kupu-kupu (sesuai produk kue yopia cap kupu-kupu yang digunakan hingga sekarang) dan penggilingan adonan dari balok kayu berbentuk bulat dengan pegangan disisi ujung kanan dan kirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Jaman dulu belum seperti ini menggunakan oven, dulu masih pakai arang untuk manggang yopia,&#8221; kata dia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses pembuatan adonan kue dilakukan mulai dini hari sekitar pukul 02.00 bebarengan dengan pembuatan isiannya yaitu gula aren yang dicampur dengan air. Proses pembuatan adonan bisa mamakan waktu hampir 2 jam dan adonan harus diaduk-aduk terus. Setelah adonan tepung jadi, kemudian dibentuk memanjang dengan diameter kurang lebih 2 cm dan dipotong kecil-kecil menyerupai dadu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari adonan yang sudah terpotong-potong tadi, digiling menggunakan balok kayu hingga berbentuk bulat pipih. Setelah itu baru diberi isian gula aren yang kemudian ditutup dengan adonan tepung dan digiling kembali.<br>Waras menerangkan dalam pembuatan adonan tidak ada takaran khusus, yang digunakan hanyalah perkiraan saja. Meski berdasarkan perkiraan rasa yopia buatannya tidak ada perubahan rasa dari semenjak yopia dibuat oleh generasi pertama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Tidak ada takaran, ya cuma dikira-kira saja karena dulu mbah buyut ngajarinya gitu. Sampai sekarang yang dipakai ya cuma itu (takaran kira-kira), jadi kalau tidak keluarga tidak bisa buat,&#8221; bebernya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah semua adonan yopia dibentuk kemudian dimasukan dalam oven dengan suhu 200 derajat selama 3 menit. Jika terlalu lama di dalam oven kue yopia yang dihasilkan akan keras pada kulitnya, selain itu permukaannya juga kering dan gosong.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses pembuatannya pun tergolong cukup susah, karena jika adonan yang digiling tadi seusai diberi isian gula jawa tidak tertutup sempurna atau masih ada sedikit rongga, kue yopia yang masuk kedalam oven tidak akan bisa mengembang. Waras yang sehari-harinya membuat kue yopia pun kadang juga masih mengalami kegagalan saat membuatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kalau adonan tepung itu masih ada lubang pasti tidak jadi, kue tidak mau mengembang seperti kempes,&#8221; ucap dia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hasil kue yang gagal mengembang tidak serta merta kemudian dibuang, namun biasa ia makan sendiri bersama keluarga atau buat bahan mencicipi pengunjung yang datang kesana. Bahkan ada beberapa pengunjung yang kepencut dengan yopia yang gagal mengembang, malahan ingin memesan dengan jumlah yang banyak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Tapi kadang ada pembeli yang sukanya yang kempes, dia pengen pesen, tapi kan itu tidak bisa karena itu juga tidak disengaja,&#8221; jelasnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="1446" data-permalink="https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/img-20200123-wa0014/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0014.jpg?fit=1008%2C567&amp;ssl=1" data-orig-size="1008,567" data-comments-opened="1" data-image-title="Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Karyawan Waras mengambil kue seusai keluar dari oven untuk proses packing&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0014.jpg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0014.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi" class="wp-image-1446" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0014.jpg?w=1008&amp;ssl=1 1008w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0014.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0014.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Karyawan Waras mengambil kue seusai keluar dari oven untuk proses packing</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam membuat yopia wanita yang memiliki nama tionghoa Siek Tian Nio ini, dibantu anak bungsunya yang bernama Tony Haryanto dan satu karyawan dari warga setempat untuk bagian pengemasan. Dirinya sengaja karyawannya diposisikan dibagian luar pengolahan yopia pasalnya untuk bagian pengolahan mulai dari proses pengadonan dlhingga pemanggangan harus dipegang oleh keturunan yang kelak meneruskan usahanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tan tjiem Liang merupakan generasi pertama yang mengajarkan ilmu pembuatan kue yang legendaris ini. Waras menerangkan proses penjualannya pun dulu dijual keliling menggunakan toples dari rumah ke rumah dengan jalan kaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin bagi warga tionghua tidak merasa asing dengan jajanan kue yopia ini, pasalnya dari bentuknya saja kue ini mirip dengan makanan khas tionghua seperti bakpau dan bakpia. Namun tidak mudah baginya untuk mengenalkan kue ini kepada orang jawa karena  tidak sedikit yang menganggap kue ini haram.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dulu banyak yang bilang kue ini haram, tidak  ini kue halal, semua bisa makan. Bahannya saja cuma tepung sama gula jawa (gula aren) tidak ada campuran bahan lainnya,&#8221; jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun dirinya terus menjaga keotentikan kue yopia dari segi rasa dan bentuk dari mbah buyutnya namun ada beberapa identitas yang terpaksa harus ia hilangkan. Kue yopia yang dahulu pada bagian tengah kue memiliki cap berbentuk kupu-kupu sebagai identitas produk kue yang diproduksi. Karena ada permintaan dari pembeli, akhirnya cap tersebut tidak diberi lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Bilangnya itu bahaya karena pakai pewarna, padahal yang dipakai itu pewarna makanan tapi pembeli bilangnya itu pakai sumbo (pewarna buatan), ya sudah sekarang tidak saya kasih lagi,&#8221; terangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masa-masa berat pernah ia alami saat ditinggal sang suami yang berusia 50 tahun. Waras harus menghidupi 4 anaknya yang saat itu masih sekolah semua. Melalui kue yopia dirinya berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Berjualan dari rumah ke rumah hingga kota ke kota menggunakan transportasi bus dan keliling jalan kaki menawarkan yopia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dulu sangat susah, harus keliling bawa kardus menawarkan. Sampai naik bus jualan ke Surabaya juga,&#8221; bebernya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="1447" data-permalink="https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/img-20200123-wa0015/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0015.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Waras ketika mencatat hasil produksi kue yopia yang baru dia buat&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0015.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0015.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1447" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0015.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0015.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0015.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Waras ketika mencatat hasil produksi kue yopia yang baru dia buat</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Saat disinggung suka duka dalam perjalanannya berjualan yopia untuk menghidupi keluarganya, dirinya sontak meneteskan air mata seakan teringat kembali perjuangan beratnya yang ia alami. Tidak ada kata-kata yang terucap darinya, hanya tetesan air mata yang berusaha ia bendung dan ia usap menggunakan tisu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saya ndak bisa mas, berat perjuangannya dulu saya tidak bisa menjelaskannya,&#8221; ucapnya dengan air mata yang tak hentinya keluar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu Tony Haryanto anak bungsunya yang juga merupakan penerus generasi ke 4 usaha kue yopia yang duduk bersama kami disaat itu mengatakan jika diingatkan kembali masa-masa susah dulu, mami (sapaan untuk ibunya) pasti menangis. Pasalnya ia tahu persis perjuangan maminya karena dulu dirinya juga ikut berjualan keliling bersama maminya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Ya gitu, mami kalau diingatkan perjuangannya dulu pasti nangis, karena berat sekali perjuangannya membesarkan 4 anak sendiri jualan yopia,&#8221; kata dia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak kecil Tony selalu ikut maminya untuk keliling berjualan kue yopia. Meski berjualan hingga keluar kota Tony tidak pernah absen untuk selalu mendampinginya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dulu pernah tempat minum saya jatuh terus terlindas kendaraan sampai pecah. Saya nangis tidak mau jalan lagi sampai dibelikan yang baru,&#8221; bebernya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum Tony ikut membantu dalam pembuatan kue yopia, ia tinggal dan bekerja di Kabupaten Kudus. Melihat usia maminya yang tidak muda lagi akhirnya Tony pada tahun 2016 memutuskan untuk pulang kampung dan ikut membantu membuat kue sembari menjaga maminya yang tinggal seorang diri setelah semua anak-anaknya bekerja dan menetap diluar kota.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saya pikir-pikir dari pada kerja ikut orang gajinya juga segitu saja sedangkan di rumah sudah ada usaha yang sudah jalan mendingan saya pulang meneruskan usaha ini sekalian jaga mami. Karena kalau tidak saya yang meneruskan sedangkan saudara yang lain di luar kota semua jajanan ini akan hilang,&#8221; bebernya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ini Tony yang bekerja membuat kue yopia dan maminya bertugas mengawasi cara pembuatannya sekaligus menghitung jumlah pesanan pelanggan yang masuk. Didapur kecil dengan dinding kayu dan beratapkan genting yang dilapisi plastik, ratusan kue yopia dibentuk setiap dua hari sekali.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="1442" data-permalink="https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/img-20200123-wa0018/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0018.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Tony  Haryanto penerus generasi ke 4 saat mengawasi pengovenan kue yopia&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0018.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0018.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi" class="wp-image-1442" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0018.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0018.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0018.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Tony  Haryanto penerus generasi ke 4 saat mengawasi pengovenan kue yopia</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tony mengaku saat ini sudah memiliki pelanggan tetap berjumlah puluhan yang selalu memborong kue yopia. Mereka biasanya adalah para pengusaha pusat oleh-oleh diberbagai daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Semarang dan Surabaya. Namun demikian usaha Tony untuk memasarkan jajan ini juga tidak mudah, penolakan pun pernah ia rasakan juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dulu saat saya memasarkannya di Kudus di tempat oleh-oleh pernah ditolak, bilangnya ini makanan apa, enak apa tidak, bentuknya kok gini. Tapi sekarang dia malah yang cari saya, mungkin sudah tahu rasanya terus pengen order untuk tempat oleh-olehnya,&#8221; terangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dimasa imlek ini, lanjutnya jumlah pesanan kue yopia meningkat 50 persen dari hari biasanya. Dalam sehari dirinya mampu diproduksi kue yopia sebanyak 500-600 buah. Harganya pun cukup terjangkau, satu kardus isi 10 kue yopia dibandrol dengan harga Rp. 25 ribu saja. Meski jumlah pesanan membludak dirinya selalu menyisakan stok untuk berjaga jaga jika ada pembeli yang menanyakan ketersediaan kue yopia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kue ini kan tidak bisa dibuat secara mendadak, butuh proses berjam-jam sampai matang. Jadi kalau ada orang yang mintanya mendadak ya tidak bisa karena ini tidak seperti kayak membuat pisang goreng yang bisa jadi dengan cepat,&#8221; paparnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="1445" data-permalink="https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/img-20200123-wa0013/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0013.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Karyawan salah satu tempat oleh-oleh mengambil pesanan kue yopia&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0013.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0013.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi" class="wp-image-1445" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0013.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0013.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200123-WA0013.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Karyawan salah satu tempat oleh-oleh mengambil pesanan kue yopia</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak sedikit Kunjungan dari mahasiswa hingga media nasional yang datang untuk  menyaksikan langsung proses pembuatan kue legendaris itu. Tidak hanya mendapat tamu dari dalam negeri, tempat usaha yang juga merupakan rumah leluhurnya itu juga pernah dikunjungi wisatawan dari luar negeri, diantaranya Malaysia dan negeri tirai bambu Jepang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Pernah ada tamu dari mana saya lupa yang jelas warga negara Indonesia memborong banyak kue saya terus katanya mau dibawa ke Amerika untuk keluarganya yang disana,&#8221; imbuhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk pengiriman luar kota saat ini Tony memilih memanfaatkan jasa travel ketimbang jasa pengiriman lainnya. Alasannya, jika menggunakan pengiriman ekspedisi lain dikhawatirkan kue yopia akan hancur karena terlempar-lempar dan tertumpuk barang lainnya. Misal menggunakan packing kayu biayanya juga akan lebih mahal, dan memberatkan pembeli dengan ongkos kirimnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Pernah ada yang minta pengiriman menggunakan jasa ekspedisi, tapi saya bilang tidak janji barang akan utuh sampai lokasi. Kemudian saya sarankan untuk pakai travel atau datang dan ambil langsung disini. Dia milih untuk diambil langsung kesini,&#8221; pungkasnya.</p>
<div class="fb-background-color" style="background-color:#ffffff"><div class="fb-comments" style="width:700px" data-href="https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/" data-numposts="10" data-lazy="true" data-colorscheme="light" data-order-by="social" data-mobile="true"></div></div><div class="alert warning"><strong>External comments notice:</strong> You may need to sign in to the external service to view or post comments.</div><p>Artikel <a href="https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/">Yopia, Makanan Legendari Rembang Yang Masih Eksis Ditengah Moderenisasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://linimedia.com/yopia-makanan-legendari-rembang-yang-masih-eksis-ditengah-moderenisasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1440</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kisah Pengepul Lobster Rembang, Buntung Di Era Edhy Prabowo</title>
		<link>https://linimedia.com/kisah-pengepul-lobster-rembang-buntung-di-era-edhy-prabowo/</link>
					<comments>https://linimedia.com/kisah-pengepul-lobster-rembang-buntung-di-era-edhy-prabowo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rendy Wibowo]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2020 01:44:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Top]]></category>
		<category><![CDATA[#EraEdhyPrabowo #lobster]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://linimedia.com/?p=1400</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rembang &#8211; Jam digital ditangan menunjukan pukul 11.00...</p>
<p>Artikel <a href="https://linimedia.com/kisah-pengepul-lobster-rembang-buntung-di-era-edhy-prabowo/">Kisah Pengepul Lobster Rembang, Buntung Di Era Edhy Prabowo</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="382" data-attachment-id="1384" data-permalink="https://linimedia.com/20200709142510_img_1025/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142510_IMG_1025.jpg?fit=720%2C404&amp;ssl=1" data-orig-size="720,404" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;1.8&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon PowerShot G7 X Mark II&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1594304710&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;8.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;800&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.02&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Kisah Pengepul Lobster Rembang, Buntung Di Era Edhy Prabowo" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Kondisi lobster saat berada di penampungan milik Lilik Harijanto.&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142510_IMG_1025.jpg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142510_IMG_1025.jpg?resize=680%2C382&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1384" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142510_IMG_1025.jpg?w=720&amp;ssl=1 720w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142510_IMG_1025.jpg?resize=300%2C168&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Kondisi lobster saat berada di penampungan milik Lilik Harijanto.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rembang </strong>&#8211; Jam digital ditangan menunjukan pukul 11.00 WIB, berbagai aktifitas para pekerja dilapangan nampak terlihat normal dalam kondisi pandemi Covid-19. Meski terik matahari begitu menyengat kulit, rasa penasaran untuk mengetahui kondisi pengusaha lobster di situasi pandemi Covid-19 saat ini, mendorong Linimedia untuk mengunjungi salah satu warga yang memikiki usaha lobster di Desa Sukoharjo kecamatan Rembang.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Letak desa Sukoharjo berjarak tidak jauh dari jantung kota Rembang. Hanya sekitar 500 meter dari alun-alun kota Rembang. Namun untuk menemukan rumah salah satu warga yang berprofesi sebagai pemasok lobster itu, dibutuhkan informasi yang akurat. Pasalnya tidak ada papan informasi mengenai pemasok lobster disekitar desa tersebut dan perumahan di daerah pesisir yang juga terlihat sangat rapat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika bertanya-tanya dengan warga setempat, Linimedia mendapat petunjuk jalan menuju rumah salah satu warga yang berprofesi sebagai pemasok lobster. Memasuki gang sepit di sebelah timur minimarket, Linimedia masih kebingungan untuk mengetahui secara pasti rumah pemasok lobster tersebut. Wajar saja rumah didaerah tersebut kebanyakan memikiki ciri-ciri yang sama, hanya kendaraan yang terpakir didepan rumah yang dapat membedakan masing-masing pemilik rumah.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah bertanya lagi kepada warga setempat, akhirnya pada pukul 12.30 WIB Linimedia mendapati rumah yang dindingnya tebuat dari kayu dengan tampilan klasik dan ada mobil mini bus disamping rumahnya. Rumah tersebut adalah milik Lilik Harijanto seorang pemasok lobster asal desa Sukoharjo.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika sampai dirumah tersebut Linimedia dipersilahkan duduk oleh istrinya dikursi yang terbuat dari kayu diteras rumahnya. Kebetulan saat itu Lilik Harijanto sedang tidak ada di rumah. Namun istrinya mengabarkan sebentar lagi akan pulang.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selang hanya beberapa menit, Lilik Harijanto datang menggunakan motor matik. Dengan tersenyum, dirinya langsung masuk kedalam rumah. Rupanya, Lilik mengambilkan minuman untuk menyambut Linimedia di rumahnya. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan Linimedia datang ke rumahnya, Lilik mempersilahkan Linimedia untuk menggali informasi terkait usaha lobster miliknya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lilik mulai menceritakan awal mula dirinya memulai usaha lobster ditwmani segelas es teh di teras rumahnya. Awal mula dirinya usaha lobster pada tahun 2010. Bermula mengambil dari hasil tangkapan tiga kapal nelayan Rembang, lobster yang ia dapat dikumpulkan di tempat penampungan rumahnya dalam kondisi hidup.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ditempat penampungan tersebut dirinya merawat lobster mulai dari menyediakan alat filter, suplai air laut yang jernih, hingga memberi makanan dengan kerang. Ketika lobster sudah terkumpul dengan minimal berat 50 kilo, dirinya mulai mengirimkannya ke berbagai daerah sekitar Kabupaten Rembang.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selang berjalannya waktu, melihat usahanya kian maju, dirinya mencoba untuk memasok ke wilayah Jakarta. Dengan menggunakan jasa pengiriman bus, Lilik memboking bagasi bus untuk meletakkan satu koli lobster.&nbsp;<br>&#8220;Saya harus booking bagasi bus dahulu waktu ingin kirim ke luar daerah,&#8221; katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dapat Ilmu Pengiriman Lobster Dari Pelatihan di Jakarta</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sialnya, saat barang tiba di agen Jakarta, semua lobster yang ia kirim dalam keadaan hidup atau segar semuanya mati dalam perjalanan. Alhasil lobster tersebut dibeli dengan agen Jakarta dengan harga lebih rendah karena dalam keadaan mati.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Akhirnya ya dibeli dengan harga mati, padahal waktu dikirim sehat semua, masih hidup semua,&#8221; ucap dia.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="382" data-attachment-id="1385" data-permalink="https://linimedia.com/20200709142930_img_1037/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142930_IMG_1037.jpg?fit=720%2C404&amp;ssl=1" data-orig-size="720,404" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;1.8&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon PowerShot G7 X Mark II&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1594304970&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;8.8&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;400&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.033333333333333&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Kisah Pengepul Lobster Rembang, Buntung Di Era Edhy Prabowo" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Kondisi lobster saat berada di penampungan milik Lilik Harijanto.&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142930_IMG_1037.jpg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142930_IMG_1037.jpg?resize=680%2C382&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1385" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142930_IMG_1037.jpg?w=720&amp;ssl=1 720w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142930_IMG_1037.jpg?resize=300%2C168&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Kondisi lobster saat berada di penampungan milik Lilik Harijanto.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Lilik mengakui, saat itu ilmu dalam dunia bisnis lobster masih rendah. Kemudian dirinya ingin memperdalan ilmunya dengan mengikuti pelatihan terkait bisnis yang ia geluti di Jakarta. Dari sanalah Lilik mendapat ilmu yang sangat bermanfaat untuk mengembangkan usaha khususnya teknik pengiriman lobster.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Jadi itu seharusnya lobster sebelum dikemas harus dibius biar pingsan dahulu. Kemudian baru bisa dikemas dan dikirim-kirim. Jadi sampai sananya lobster masih dalam keadaan hidup,&#8221; bebernya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Mendapat Pinjaman Dari Pabrik Semen Terkemuka</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perjalanan mengembangkan usaha lobsternya, Lilik mendapatkan bantuan permodalan melalui program corporate social responsibility (CSR) pabrik Semen terkemuka yang berdiri di Rembang. Ia mengaku sangat terbantu oleh CSR pemberdayaan perekonomian tersebut.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saya baru pertama kali bisa menikmati bantuan pinjaman permodalan yang mudah dan ringan sekali dari pabrik semen,&#8221; ungkapnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wajar dirinya saat itu merasa sangat terbantu karena pada saat itu dirinya sangat membutuhkan penguatan modal untuk meningkatkan cakupan pelanggan serta infrastruktur untuk memelihara agar lobster tetap bisa hidup meskipun dikirim ke luar Rembang.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Untuk memperluas cakupan pelanggan, saya butuh dukungan modal untuk membeli boks fiber tempat lobster untuk nelayan dan ABK. Hal ini penting agar komoditas lobster tetap memiliki nilai ekonomi yang tinggi,” jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lilik mengenang, awalnya&nbsp; mendapatkan kucuran pinjaman lunak Rp 40 juta tanpa ada potongan dan langsung masuk ke rekeningnya pada 2014 silam. Saat itu ia baru mampu memasok rata-rata hanya satu&nbsp; koli atau 17 kilogram (kg) lobster kepada pembeli di Surabaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sebelumnya, saya sempat beberapa tahun mengalami stagnasi usaha seperti ini. Mau meningkatkan kapasitas, modalnya tidak ada. Sementara permintaan pasar lobster terus meningkat,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkat suntikan permodalan lunak tahap pertama dan tahap kedua, kini Lilik telah menjadi jutawan. Sekarang sudah bermitra dengan 14 kapal penangkap ikan dan mampu melibatkan 202 nelayan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Omset Berkibar Diera Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini dirinya telah memiliki kolam transit untuk lobster yang berada terpisah dengan rumahnya. Daerah tujuan pengiriman lobster pun telah meluas dari Rembang, Semarang, Bali, Jakarta, hingga ke Batam. Bahkan saat itu Lilik juga menjadi salah satu suplier tetap lobster bagi salah satu perusahaan eksportir hasil perikanan di Rembang. Sehingga pasokan lobsternya juga diekspor hingga Vietnam dan Singapura.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="382" data-attachment-id="1383" data-permalink="https://linimedia.com/20200709142727_img_1035/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142727_IMG_1035.jpg?fit=720%2C404&amp;ssl=1" data-orig-size="720,404" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;2.5&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon PowerShot G7 X Mark II&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1594304847&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;15.237&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;800&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.025&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Kisah Pengepul Lobster Rembang, Buntung Di Era Edhy Prabowo" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Lilik Harijant menunjukan salah satu lobster yang ia miliki.&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142727_IMG_1035.jpg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142727_IMG_1035.jpg?resize=680%2C382&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1383" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142727_IMG_1035.jpg?w=720&amp;ssl=1 720w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709142727_IMG_1035.jpg?resize=300%2C168&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Lilik Harijant menunjukan salah satu lobster yang ia miliki.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dirinya mengakui harga lobster lokal sangat bagus diera Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Dulu ia mampu mengirim lobster hidup rata-rata 30 koli atau omzet minimal mencapai Rp 200 juta per bulan belum dipotong biaya produksi sebesar 15 persen. Ini jika dihitung asumsi harga satu ekor lob­ster Rp 350 ribu dan volume per koli men­capai 17 kg.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saat menteri susi harga lobster sangat bagus,&#8221; ucapnya singkat sambil mengacungkan jempol.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk satu ekor lobster mutiara harga jualnya mencapai Rp 900 ribu per ekor dengan berat di atas satu kilogram. Sementara lobster jenis jenis Pakistan dijual berkisar Rp 350 ribu hingga Rp 400 per ekor.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Belum Merasakan Efek Kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah masa jabatan Menteri Susi digantikan Edhy Prabowo, kebijakan larangan ekspor dijabut. Kini, benih lobster diperbolehkan untuk di ekspor kembali. Baginya adanya kebijakan itu belum memberi pengaruh terhadap usaha yang ia tekuni. Justru yang sangat ia rasakan di era Menteri Edhy Prabowo adalah dampak dari adanya wabah Covid-19.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kalau kebijakan Menteri yang baru saya sifatnya menunggu dan melihat, karena saat ini yang paling terasa yaitu dampak Covid-19,&#8221; benernya.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="381" data-attachment-id="1386" data-permalink="https://linimedia.com/20200709141111_img_1019/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709141111_IMG_1019.jpg?fit=960%2C538&amp;ssl=1" data-orig-size="960,538" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;4&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon PowerShot G7 X Mark II&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1594303871&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;11.215&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;125&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.025&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Kisah Pengepul Lobster Rembang, Buntung Di Era Edhy Prabowo" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Lilik Harijanto saat dikunjungi Linimedia di teras rumahnya.&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709141111_IMG_1019.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709141111_IMG_1019.jpg?resize=680%2C381&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-1386" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709141111_IMG_1019.jpg?w=960&amp;ssl=1 960w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709141111_IMG_1019.jpg?resize=300%2C168&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200709141111_IMG_1019.jpg?resize=768%2C430&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Lilik Harijanto saat dikunjungi Linimedia di teras rumahnya.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dimasa pandemi Covid-19 seperti saat ini, kata dia, harga lobster per kilogramnya merosot tajam. Dari harga yang sebelumnya Rp. 350 ribu per kilogramnya untuk lobster jenis pakistan, kini hanya dihargai Rp. 150 ribu. Omset yang ia dapatkan secara otomatis juga ikut merosot tajam.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Sekarang omset katakanlah rata-rata tinggal 10 juta, itu sudah bersih. Sangat hancur harga lobster saat pandemi seperti ini, tidak seperti dulu&#8221; jelasnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum lagi dirinya juga harus bersaing dengan pengusaha lobster lain yang mulai bermunculan melihat omsetnya yang sangat menggiurkan. Pernah dirinya mencoba untuk bisnis hasil laut lainnya dimasa pandemi Covid-19 saat ini. Namun karena perekonomian belum kembali normal, bukannya untung namun kerugian yang ia dapatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Pernah mencoba ikan hasilnya jeblok, kemudian cumi hasilnya juga jeblok karena harganya naik turun tidak stabil. Akhirnya kembali ke lobster lagi walaupun harganya turun tapi masih stabil,&#8221; pungkasnya.</p>
<div class="fb-background-color" style="background-color:#ffffff"><div class="fb-comments" style="width:700px" data-href="https://linimedia.com/kisah-pengepul-lobster-rembang-buntung-di-era-edhy-prabowo/" data-numposts="10" data-lazy="true" data-colorscheme="light" data-order-by="social" data-mobile="true"></div></div><div class="alert warning"><strong>External comments notice:</strong> You may need to sign in to the external service to view or post comments.</div><p>Artikel <a href="https://linimedia.com/kisah-pengepul-lobster-rembang-buntung-di-era-edhy-prabowo/">Kisah Pengepul Lobster Rembang, Buntung Di Era Edhy Prabowo</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://linimedia.com/kisah-pengepul-lobster-rembang-buntung-di-era-edhy-prabowo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1400</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Dibalik Secangkir Kopi Lelet Rembang</title>
		<link>https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/</link>
					<comments>https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rendy Wibowo]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2020 23:06:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Top]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://linimedia.com/?p=172</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rembang&#160;&#8211; Kopi merupakan minuman wajib bagi sebagian besar...</p>
<p>Artikel <a href="https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/">Sejarah Dibalik Secangkir Kopi Lelet Rembang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" height="454" width="680" decoding="async" data-attachment-id="179" data-permalink="https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/20200313160643_img_0367_1/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200313160643_IMG_0367_1.jpg?fit=2400%2C1600&amp;ssl=1" data-orig-size="2400,1600" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;3.2&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon PowerShot G7 X Mark II&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1584115603&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;10.185&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;125&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.02&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Sejarah Dibalik Nikmatnya Kopi Lelet Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Sejarah Dibalik Nikmatnya Kopi Lelet Rembang&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200313160643_IMG_0367_1.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/20200313160643_IMG_0367_1.jpg?resize=680%2C454&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-179"/><figcaption>Sejarah Dibalik Nikmatnya Kopi Lelet Rembang</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rembang</strong>&nbsp;&#8211; Kopi merupakan minuman wajib bagi sebagian besar warga Rembang yang dikonsumsi setiap harinya. Hingga minuman yang mengandung kafein ini menjadi maskot yang unik bagi Kabupaten Rembang khususnya daerah Kecamatan Lasem.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana tidak, ampas kopi yang biasanya tidak terpakai atau dibuang setelah diminum airnya, di Rembang dimanfaatkan untuk menambah rasa nikmat pada batang rokok saat dihisap. Itulah yang menyebabkan minuman kopi tidak pernah lepas dari belasan batang rokok di kawasan Rembang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun tidak sembarang bubuk kopi bisa dimanfaatkan ampasnya, butuh proses khusus dalam pembuatan bubuk kopinya<br>Nama kopi tersebut adalah kopi lelet, kopi yang selalu dipesan bagi para perokok saat mampir diwarung kopi sebelum memulai aktifitas dipagi hari. Mereka biasanya melelet (memberi ampas kopi di batang rokoknya) semua batang rokok miliknya sebagai bekal untuk mengarungi rutinitas sehari-hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebiasaan itu bisa disebut agenda wajib hingga tanpa disadari terbawa saat berada diluar daerah. Mereka yang biasa ngopi lelet, membawa bubuk kopi sendiri dan hanya memesan secangkir air panas dan gula saat diwarung, karena mereka menyadari jika diluar Rembang kopi lelet tidak mungkin bisa dijumpai. Darisanalah kopi lelet yang lahir di daerah Lasem ini mulai dikenal sedikit demi sedikit orang-orang diluar Rembang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain rasa dan tekstur bubuk kopinya berbeda dengan daerah lain, kebiasaan melelet batang rokok mungkin bagi sejumlah orang yang belum mengenal merasa aneh. Sebab rokok yang sudah tersusun rapi didalam tempatnya dikeluarkan semua untuk dicorat-coret dengan ampas kopi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari keanehan tersebut, lambat laun kopi lelet mulai dikenal dimasyarakat luar. Berawal dari rasa penasaran, tidak sedikit dari mereka yang mengakui bahwa rokok yang dilelet menggunakan ampas dari kopi lelet memiliki aroma dan rasa yang nikmat saat dihisap walau baru pertama kali mencoba.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sejarah Kopi Lelet Berawal Dari Kopi Dulit</strong></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="381" data-attachment-id="174" data-permalink="https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/img-20200321-wa0044/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0044.jpg?fit=1024%2C573&amp;ssl=1" data-orig-size="1024,573" data-comments-opened="1" data-image-title="Sejarah Dibalik Nikmatnya Kopi Lelet Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Suasana ditengah warung kopi Wak Nasir&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0044.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0044.jpg?resize=680%2C381&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-174" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0044.jpg?w=1024&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0044.jpg?resize=300%2C168&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0044.jpg?resize=768%2C430&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Suasana ditengah warung kopi Wak Nasir</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Meski menjadi kopi otentik dari Rembang, hanya segelintir orang yang mengetahui sejarah panjang yang menyelimuti nikmatnya secangkir kopi lelet. Merasa tertarik untuk mengulik cerita sejarahnya, Linimedia mencoba menyambangi kediaman Ernantoro, seorang sejarawan yang sangat hafal seluk beluk sejarah di daerah Lasem.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat dikunjungi dirumahnya yang berada di Desa Gedongmulyo, Toro sapaan akrabnya telah menyiapkan denah perkembangan kopi lelet yang dulunya dikenal kopi sedulit digambarkan pada papan tulis putih dengan warna hitam. Dirinya telah menyiapkannya karena sebelumnya Linimedia telah membuat jadwal bertemu untuk mengulas sejarah kopi lelet melalui pesan whastapp.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Linimedia dipersilahkan masuk diruang tamu dan duduk lesehan beralaskan karpet hijau tanpa ada kursi satupun karena tempat tersebut biasa digunakannya untuk menjamu para seniman Rembang yang ingin berdiskusi dengan dirinya. Dengan suguhan segelas kopi yang dipesankan oleh salah seorang murid yang berguru sejarah di rumahnya, Toro mulai menjelaskan dari daerah Desa Gedongmulyo Kecamatan, dimana daerah tersebut menjadi pusat penjualan kopi sedulit pertama kali. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Toro mulai menjelaskan pada tahun 1930 di Desa Dasun terdapat galangan kapal milik tuan Berendsen yang merupakan seorang warga negara Belanda. Di seberang galangan tersebut tepatnya di desa Gedongmulyo terdapat warung-warung yang menjual makanan dan minuman khususnya kopi untuk para pekerja di galangan kapal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jumlah warung tersebut cukup banyak mengingat galangan yang dimiliki tuan Berendsen juga ada 6 dok kapal yang berjejer. Banyak warga pribumi Lasem yang mencari mata pencaharian dengan bekerja di galangan kapal itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dulu berjejer banyak warung-warung yang jualan kopi dan pembelinya para tukang yang kerja di galangan kapal,&#8221; jelas Toro.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Usai bekerja di galangan kapal biasa para pekerja menyebrangi sungai Babagan yang membelah wilayah Lasem sejak tahun 1700melalui jembatan kecil yang menghubungkan dua desa tersebut untuk menikmati secangkir kopi di warung milik Mbah Toyib yang saat itu paling terkenal disana sembari bersenda gurau dengan pekerja lainnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="381" data-attachment-id="175" data-permalink="https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/img-20200321-wa0040/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0040.jpg?fit=1024%2C573&amp;ssl=1" data-orig-size="1024,573" data-comments-opened="1" data-image-title="Sejarah Dibalik Nikmatnya Kopi Lelet Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Galangan kapal tuan Berendsen di Desa Dasun pada 1930&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0040.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0040.jpg?resize=680%2C381&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-175" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0040.jpg?w=1024&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0040.jpg?resize=300%2C168&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0040.jpg?resize=768%2C430&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Galangan kapal tuan Berendsen di Desa Dasun pada tahun 1930</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sana, mereka memiliki kebiasaan unik untuk menambah awet rokok yang mereka hisap. Yaitu dengan cara mengoleskan ampas kopi yang airnya telah mereka minum menggunakan jari telunjuk atau biasa disebut didulit. Lambat laun kebiasaan tersebut menular dari pekerja satu ke pekerja yang lain hingga kawasan warung tersebut dikenal dengan warung kopi sedulit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Warung Kopi Sedulit Pindah Tempat Saat Kedatangan Tentara Jepang&nbsp;<br>Setelah tentara Jepang berhasil memukul mundur tentara Belanda dan mengambil alih kekuasaan di Indonesia tahun 1942. Warga Belanda yang masih ada di Indonesia merasa terancam hingga Herlena anak perempuan Berendsen yang mewarisi galangan kapal usai Berendsen kembali ke negara asalnya, akhirnya membakar semua galangan kapal dengan maksud agar galangan kapal itu tidak dikuasai Jepang pada masa itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Merasa terdesak wanita yang merupakan keturunan campuran Belanda dan Jawa itu melarikan diri dan keluar dari wilayah Kabupaten Rembang menuju ke Kabupaten Blora. Sampai saat ini, belum diketahui alasan Herlena lari dari kedatangan tentara Jepang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Galangan kapal sudah terbakar habis, hingga warung kopi milik Mbah Toyib jadi sepi pembeli, karena rata-rata pembeli dari para pekerja galangan. Merasa tidak ada lagi pekerja di galangan yang membeli kopi dagangannya, ditambah banyaknya tentara Jepang yang ada di daerah tersebut yang mengintimidasi warga pribumi. Akhirnya Mbah Toyib memutuskan pindah berjualan kopi di Desa Ngemplak Kecamatan Lasem arah pegunungan lasem.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Akibat desakan tentara Jepang, dan galangan kapal juga sudah terbakar, tidak ada yang kerja disana lagi akhirnya Mbah Toyib ini pindah jualannya,&#8221; ucapnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="453" data-attachment-id="178" data-permalink="https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/img-20200321-wa0037/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0037.jpg?fit=1024%2C682&amp;ssl=1" data-orig-size="1024,682" data-comments-opened="1" data-image-title="Sejarah Dibalik Nikmatnya Kopi Lelet Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Warung kopi Wak Nasir ramai pembeli&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0037.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0037.jpg?resize=680%2C453&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-178" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0037.jpg?w=1024&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0037.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0037.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Warung kopi Wak Nasir ramai pembeli</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Bertempat dipinggiran sungai arah Warugunung yang sudah ada sejak abad ke 13, Mbah Toyib mulai mendirikan warung kopi sedulit sekaligus rumah yang ia tempati bersama keluarga kecilya. Ditempat itulah hingga sekarang usaha warung kopi milik Mbah Toyib diteruskan dari generasi ke generasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Sampai sekarang Mbah Toyib jualan kopinya disana (Desa Ngemplak), karena Mbah Toyib sudah tidak ada (meninggal) saat ini diteruskan oleh keturunannya,&#8221; jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Toro pun mengajak Linimedia untuk langsung menuju ke lokasi warung kopi Wak Nasir yang merupakan generasi penerus ke tiga dari warung kopi Mbah Toyib setelah generasi ke dua Mbah Kasmi. Disana dijumpai warung sederhana berukuran kurang lebih 3&#215;4 meter dengan cat tembok warna biru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bertempat dipinggir jalan arah pegunungan Kajar, warung tersebut berada didepan rumah yang dihuni Wak Nasir bersama keluarganya. Warung itu tergolong cukup terkenal dan ramai pengunjung. Para warga setempat yang sedang menikmati secangkir kopi dan bercengkrama dengan kawannya pun tidak asing saat kedatangan media hendak melakukan liputan disana. Wajar, banyak media nasional yang telah melakukan liputan untuk mengulik sejarah Lasem termasuk warung kopi milik Wak Nasir ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Proses Penyajian Kopi Dulit</strong></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="453" data-attachment-id="177" data-permalink="https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/img-20200321-wa0041/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0041.jpg?fit=1024%2C682&amp;ssl=1" data-orig-size="1024,682" data-comments-opened="1" data-image-title="Sejarah Dibalik Nikmatnya Kopi Lelet Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Tungku yang dipakai Wak Nasir memanaskan air untuk menyeduh kopi.&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0041.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0041.jpg?resize=680%2C453&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-177" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0041.jpg?w=1024&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0041.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0041.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Tungku yang dipakai Wak Nasir memanaskan air untuk menyeduh kopi.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Saat diajak berbincang didepan warung miliknya, Wak Nasir mengaku dirinya mulai berjualan kopi mulai tahun 1984, setelah sebelumnya kopi Mbah Toyib diteruskan oleh generasi ke dua. Sebagai penerus generasi ke tiga, Wak Nasir masih menggunakan cara tradisional saat merebus air untuk kopi, yaitu menggunakan arang dan tungku yang terbuat daritanah liat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kalau pakai tungku itu aroma airnya beda, sama panas air itu awet karena kan arangnya nyala terus. Kalau pakai kompor kelamaan, air tidak bisa panas terus,&#8221; jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wak Nasir menyebutkan, tidak ada cara khusus untuk membuat kopi dulit yang saat ini terkenal dengan kopi lelet. Biji kopi sebanyak 2 kilo gram disangrai selama 30 menit hingga biji kopinya gosong atau menghitam. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk proses penggorengannya sudah berubah tidak menggunakan kayu lagi namun sudah menggunakan kompor. Jika matangnya kurang sempurna warna kopinya pun cenderung kecoklatan, tidak bisa menghitam saat diselep.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kalau pakai kayu itu kayunya harus benar-benar kering, kalau hujan jadi kendala. Proses penggorengan tidak bisa dilakukan kalau kayu basah. Jadi biar bisa produksi terus sekarang pakainya kompor, apinya stabil bisa dibesarkan bisa dikecilkan&#8221; bebernya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ada proses yang berbeda dalam proses pembuatan kopinya, yaitu diproses penyelepan biji kopi yang telah disangrai. Wak Nasir mengungkapkan, proses penyelepan dilakukan sebanyak tujuh kali. Itu dilakukan agar dapat menghasilkan bubuk kopi yang sangat halus dan bisa digunakan untuk mendulit atau melelet kopi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Harus 7 kali selep, biar halus jadinya nanti, kalau kurang dari itu hasilnya kasar, tidak bisa digunakan untuk lelet. Kayak kopi-kopi biasa jadinya,&#8221; ucapnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Perubahan Kopi Sedulit Menjadi Kopi Lelet</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbedaan kopi sedulit dengan kopi lelet sendiri terletak pada cara mengoleskan ampas kopi ke batang rokoknya. Jika sedulit yang dulu itu menggunakan jari tangan saat mengoleskan ampas kopi. Cara pengolesannyapun asal-asalan tanpa pola. Namu jika kopi lelet sudah menggunakan alat berupa sendok, benang, dan lidi untuk mengoleskan ampas kopi ke batang rokok dengan pola dan motif yang menarik dan unik.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="453" data-attachment-id="173" data-permalink="https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/img-20200321-wa0042/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0042.jpg?fit=717%2C478&amp;ssl=1" data-orig-size="717,478" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Sejarah Dibalik Nikmatnya Kopi Lelet Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Pembeli yang sedang melelet rokok didepan warung Wak Nasir&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0042.jpg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0042.jpg?resize=680%2C453&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-173" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0042.jpg?w=717&amp;ssl=1 717w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0042.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Pembeli yang sedang melelet rokok didepan warung Wak Nasir</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ada yang membuat pola layar pada perahu menggunakan sendok, ada pula yang membuat motif batik menggunakan lidi yang diruncingkan ujungnya. Meski terbilang kurang kerjaan, cara tersebut juga bisa dijadikan strategi untuk mengangkat batik khas Lasem melalui coretan dibatang rokok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Sekarang sudah tidak pakai jari, pakainya kalau tidak sendok ya benang. Kalau pakai lidi itu yang mau bikin gambar batik,&#8221; lanjut dia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rasa Roko Yang Dilelet Lebih Nikmat Dan Awet</strong></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="453" data-attachment-id="180" data-permalink="https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/img-20200321-wa0043/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0043.jpg?fit=1024%2C682&amp;ssl=1" data-orig-size="1024,682" data-comments-opened="1" data-image-title="Sejarah Dibalik Nikmatnya Kopi Lelet Rembang" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Wak Nasir keturunan generasi ke 3 dari penjual kopi lelet pertama kali di Rembang&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0043.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0043.jpg?resize=680%2C453&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-180" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0043.jpg?w=1024&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0043.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200321-WA0043.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Wak Nasir keturunan generasi ke 3 dari penjual kopi lelet pertama kali di Rembang</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Rasa dari rokok yang sudah dilelet, kata Wak Nasir aroma asapnya lebih nikmat. Ada aroma kopi saat asap rokok dikebulkan, dan tentunya proses pembakaran rokok sedikit awet karena permukaan batang rokok terlapisi ampas kopi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Lebih nikmat kalau dilelet, kata pembeli disini juga gitu, kalau tidak dilelet itu rasanya ada yang kurang. Mungkin karena sudah terbiasa,&#8221; lanjut dia.<br>Tidak sedikit dari pelanggannya dari sekitar yaitu desa Medang, Desa Karangturi dan Desa Soditan menghabiskan waktu berjam-jam di warungnya untuk melelet satu bungkus rokok. Ada juga yang membatik batang rokok sambil menikmati alunan musik yang ia setel malalui radio.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Takaran bubuk kopi yang pria usia 51 tahun ini gunakan cukup unik, dia menggunakan takaran dengan sendok obat yang ia dapat ketika membeli obat berjenis sirup. Cara memasukkan gula kedalam gelasnya juga tidak biasa, ia melemparkan gula dengan sendok keatas dan dimasukan kedalam gelas yang telah ia isi bubuk kopi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dari dulu ya pakainya ini, pakai sendok obat. Satu cangkir takarannya satu setangah sendok kopi dan gulanya sama satu setengah,&#8221; terangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wak Nasir biasa berjualan ditemani oleh istrinya. Segelas kopi biasa ia jual dengan harga Rp. 3000, jika menggunakan gelas besar harganya Rp. 5000. Pria dua anak ini mengaku mulai buka warung pada jam 08.00 pagi dan tutup sekitar jam 18.00 WIB atau habis magrib. </p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kalau dulu bukanya sampai pol malam, kalau sekarang banyak warung (warung kopi) lainnya jadi habis magrib tutup, istilahnya ya bagi-bagi rejeki,&#8221; jelas dia.</p>
<div class="fb-background-color" style="background-color:#ffffff"><div class="fb-comments" style="width:700px" data-href="https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/" data-numposts="10" data-lazy="true" data-colorscheme="light" data-order-by="social" data-mobile="true"></div></div><div class="alert warning"><strong>External comments notice:</strong> You may need to sign in to the external service to view or post comments.</div><p>Artikel <a href="https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/">Sejarah Dibalik Secangkir Kopi Lelet Rembang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://linimedia.com/sejarah-dibalik-secangkir-kopi-lelet-rembang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">172</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sukarjan Dan Mitos Mengerikan di Dusunnya</title>
		<link>https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/</link>
					<comments>https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rendy Wibowo]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2020 22:10:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Top]]></category>
		<category><![CDATA[mistis]]></category>
		<category><![CDATA[mitos]]></category>
		<category><![CDATA[ngaglik]]></category>
		<category><![CDATA[rembang]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://linimedia.com/?p=162</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rembang&#160;&#8211; Dusun Ngaglik merupakan daerah kecil yang terletak...</p>
<p>Artikel <a href="https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/">Sukarjan Dan Mitos Mengerikan di Dusunnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="167" data-permalink="https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/img_20200103_132534_1/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;1.9&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;POCOPHONE F1&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1578057934&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;3.94&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;100&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.0009794319294809&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Sukarjan Dan Mitos Mengerikan di Dusunnya" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Anak-anak dusun Ngaglik yang tidak pernah tersentuh oleh bidan &lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-167" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Anak-anak dusun Ngaglik yang tidak pernah tersentuh oleh bidan </figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rembang</strong>&nbsp;&#8211; Dusun Ngaglik merupakan daerah kecil yang terletak di Desa Kedungasem Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang yang memiliki hamparan lahan pertanian subur nan asri. Dibalik kesuburan tanah wilayah tersebut, Dusun Ngaglik memiliki mitos mengerikan yang membuat seluruh pejabat maupun aparatur sipil negara (ASN) Kabupaten Rembang berpikir seribu kali untuk datang kesana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mitos yang diperkirakan ada sejak jaman belanda hingga bertahan sampai sekarang, menjadi momok yang mengerikan bagi mereka yang memiliki jabatan. Bagaimana tidak, mitos bagi mereka yang memiliki jabatan kemudian datang ke dusun tersebut dipercaya pasti akan ditimpa kesialan.<br>Mulai dari dicopotnya jabatan hingga penurunan jabatan. Tak hayal semua pegawai pemerintahan pasti tidak sudi jika diajak datang ke dusun tersebut.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Merasa penasaran, Linimedia mencoba untuk datang ke Dusun Ngaglik tersebut untuk menguak awal mula mitos tersebut hingga dipercaya banyak orang. Hamparan hijau tanaman padi dipersawahan menyambut kedatangan kami saat memasuki Dusun tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belakangan ini wilayah Rembang memang sering turun hujan, wajar karena di bulan Januari ini Rembang memasuki masa penghujan. Ditemani oleh suami ibu kepala desa setempat, kami diantarkan menuju ke rumah salah satu tokoh masyarakat Desa Ngaglik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dibawah cuaca yang mendung kami menunggu tokoh masyarakat setempat disebuah pos kampling yang letaknya ditengah-tengah dusun Ngaglik. Karena pihaknya sedang beristirahat di warung kelontong sembari menghabiskan minuman pesanannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak lama kemudian kami diajak ke rumahnya yang tak jauh dari warung kelontong tersebut. Terlihat didepan rumahnya terdapat banyak tumpukan kusen dari kayu yang sedang dibuat oleh seorang tukang kayu untuk memperbaiki rumah sederhananya yang berdinding kayu dengan alas tanah.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="165" data-permalink="https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/img_20200103_133152-1/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_133152-1.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;1.9&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;POCOPHONE F1&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1578058312&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;3.94&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;775&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.04&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Sukarjan Dan Mitos Mengerikan di Dusunnya" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Tokoh masyarakat Dusun Ngaglik sekaligus ketua BPD Desa Kedungasem Sukarjan&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_133152-1.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_133152-1.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-165" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_133152-1.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_133152-1.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_133152-1.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Tokoh masyarakat Dusun Ngaglik sekaligus ketua BPD Desa Kedungasem Sukarjan</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Mengenakan kemeja batik lengan panjang lengkap dengan sarung dan peci, Sukarjan yang merupakan tokoh masyarakat sekaligus ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kedungasem itu mempersilahkan kami duduk diruang tamu sederhananya. Dengan suguhan teh hangat yang dibuatkan oleh istri tercintanya, Sukarjan mulai menceritakan awal mula mitos mengerikan desanya yang telah beredar lama dan dipercaya masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dirinya menjelaskan, mitos tersebut sudah ada sejak lama, bahkan sebelum dirinya dilahirkan. Awalnya mitos tersebut hanya sebuah kejadian biasa, seorang pemerintah desa yang berkunjung ke dusunnya kemudian dia lengser dari jabatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Katanya kalau pejabat datang ke dusun saya nanti jabatannya lepas, atau copot, atau tertimpa kesialan yang lainnya, itu kan tidak logis. Itu (mitos, Red) sudah lama sejak orang tua saya, sejak mbah saya, dari buyut-buyut saya kalau cerita gitu,&#8221; jelas Sukarjan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menerangkan, yang namanya sebuah jabatan pasti ada masanya, namun warga didaerah lain menyangkut-nyangkutkannya dengan hal mistis terkait dusunnya. Cerita dari satu orang menyebar ke orang lain dengan tambahan-tambahan yang tidak sesuai dengan fakta aslinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Biasanya kan gitu, ada tambahan tambahan kalau orang cerita. Misalnya orang ini ceritanya satu diceritakan lagi ceritanya jadi dua, kemudian diceritakan lagi tambah jadi tiga, tambah jadi empat, lima dan gitu seterusnya. Jangankan uang, kabar aja sekarang dimarkup,&#8221; terang dia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mulai lambat laun, dari tahun ke tahun cerita tersebut tersebar luas hingga masyarakat mempercayainya. Setiap ada kejadian kesialan pegawai yang datang ke dusunnya selalu diungkit ungkitkan dengan mitos tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dari cerita yang ditambah-tambahi itu kemudian jadi membesar dan dipercaya sampai sekarang,&#8221; jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal mitos tersebut belum pernah terjadi kepada seorang pejabat datang ke dusun ngaglik kemudian dicopot jabatannya. Malahan pejabat yang datang ke dusun tersebut bukanya lengser namun dinaikan jabatannya</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Itu belum terbukti, sama sekali belum pernah ada pejabat kesini terus dicopot, kalau naik jabatan malah ada,&#8221; tegasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akibat beredar mitos tersebut, dampak sosial jelas sangat dirasakannya selama tinggal disana. Pelayanan pemerintah yang sebarusnya didapatkan warga dusun ngaglik seakan menjauh dari dusun tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mulai dari bidan hingga penghulu pun tidak ada satu pun yang berani masuk dusun tersebut. Diskriminasi itulah yang dirasakan warga ngaglik selama bertahun-tahun. Bidan dan penghulu baru mau melayani warga ngaglik jika mereka mau keluar dari dusun tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Bidannya maupun penghulu itu baru mau melayani di dusun sebelah yaitu jasem,&#8221; bebernya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sambil menghela nafas, dirinya mengungkapkan rasa penderitaan warga ngaglik dirasakan mulai dari bayi yang baru lahir. Peningkatan pelayanan kesehatan yang sering digembor-gemborkan pemerintah seakan terpental saat mendengar dusun ngaglik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saking seringnya melahirkan kan istilahnya ada yang &#8220;kebrojolan&#8221; bayi tahu-tahu sudah keluar. Bayi yang baru lahir tadi yang seharusnya tidak boleh kena angin terpaksa dibawa keluar biar dipegang sama bidan, kalau seperti itu terus kan kasihan,&#8221; terangnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="167" data-permalink="https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/img_20200103_132534_1/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;1.9&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;POCOPHONE F1&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1578057934&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;3.94&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;100&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.0009794319294809&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Sukarjan Dan Mitos Mengerikan di Dusunnya" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Anak-anak dusun Ngaglik yang tidak pernah tersentuh oleh bidan &lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-167" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132534_1.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Anak-anak dusun Ngaglik yang tidak pernah tersentuh oleh bidan </figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dari pengakuannya, kebanyakan bayi yang lahir di dusunnya tak pernah sekalipun tersentuh oleh tangan seorang bidan hingga mereka tumbuh besar. Padahal berdasarkan undang-undang dari kementrian kesehatan, bayi yang baru berusia 40 hari harus mendapat kunjungan bidan minimal 3 kali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Jangankan 3 kali, sekali pun aja tidak pernah, yang kami tuntut cuma satu aja, yaitu pelayanan. Itu yang sangat diharapkan oleh masyarakat, masalahnya yang semestinya ibu melahirkan itu bisa dilayani, bisa diperiksa bisa dikontrol ibu dan bayinya namun sampai saat ini belum pernah,&#8221; ungkapnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kejadian-kegadian aneh yang dialami orang-orang ketika datang kesana kerap kali disangkutkan dengan hal mistis. Seperti pagelaran ketoprak di dusun ngaglik yang panggungg roboh diterjang angin hingga tukang sound sistem yang alatnya rusak ketika disewa untuk acara di dusun tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saya kalau ada acara semisal pengajian sampai kesulitan mencari tukang sound sistem yang mau. Alasannya takut kalau alatnya tiba-tiba rusak setelah dari sana, itu kan tidak masuk akal,&#8221; terang dia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya itu, ia pun merasa terheran-heran, sampai tukang gergaji yang ia suruh menggergaji kusen kayunya guna memperbaiki rumahnya sampai ikut-ikutan tidak berani masuk dusun. Alhasil ia harus menggotong kayu miliknya hingga keluar batas dusun agar tukang gergaji tersebut mau mengarjakan kayu milik Sukarjan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Tukang gergaji kok ikut-ikutan juga, saya itu sampai berpikir begini, kalau pak pejabat kuatir kalau jabatannya copot, kalau tukang gergaji yang mau copot itu apanya,&#8221; ungkapnya sambil tertawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski demikian, pria yang merupakan jebolan pondok pesantren itu tidak memungkiri jika di dusunnya itu memang kental dengan berbagai mitos. Mulai dari orang luar yang datang untuk meminta ijin mengambil tanah sebagai obat diarea punden yang dikeramatkan, hingga pencuri pakaian yang usai mencuri tidak bisa keluar wilayah dari dusun tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dulu ada yang kesini minta tanah katanya buat obat, kemudian dari pengakuan seorang pencuri yang kesehariannya mencari kodok di sawah itu dia sehabis mengambil pakaian orang terus lari muter-muter tidak ketemu jalan pulang, setelah pakaian yang dicuri tadi dibuang akhirnya bisa pulang, itu ada,&#8221; bebernya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan adanya cerita tersebut, pria usia 40 tahun itu pun menyimpulkan bagi siapapun yang berkunjung ke dusunya dengan niat yang baik, pasti akhirnya akan baik juga. Sebaliknya jika mereka datang untuk hal yang negatif kesialan juga akan menimpanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kalau itu percaya tidak percaya, kita hidup didunia ini tidak mungkin sendirian, pasti ada makhluk lain. Insya allah kalau datang dengan niat baik, pasti akan baik juga,&#8221; katanya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="166" data-permalink="https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/img_20200103_132942-1/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132942-1.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;1.9&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;POCOPHONE F1&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1578058182&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;3.94&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;100&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.00042808219178082&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Sukarjan Dan Mitos Mengerikan di Dusunnya" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Aktifitas warga dusun Ngaglik yang mayoritas bekerja sebagai petani sawah&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132942-1.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132942-1.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-166" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132942-1.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132942-1.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132942-1.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Aktifitas warga dusun Ngaglik yang mayoritas bekerja sebagai petani sawah</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dusun yang memiliki penduduk dengan jumlah sekitar 40 kepala keluarga (KK) pada siang itu ramai dengan aktifitas pertanian. Meski agak terlambat, musim penghujan ini memberi berkah yang luar biasa bagi mereka karena mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani sawah, setelah mengalami kekeringan selama berbulan-bulan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dusun Ngaglik memang kental dengan budaya yang berbau mistis. Sukarjan mencontohkan salah satu kegiatan warga desa biasanya yang memiliki hewan ternak sapi setiap setahun sekali pasti ada acara yang namanya ngalungi atau ngupati yang tradisi kondangannya digelar ditengah sawah. Kemudian ia berpikir, untuk merubah lokasi acara tersebut agar digelar didalam desa saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena saat itu kebetulan turun hujan, ia mengusulkan agar acara tersebut dipindah ke tengah desa. Dengan alasan hujan tersebut akhirnya ia berhasil membujuk warga untuk pindah lokasi acara. Lambat laun, ia menggeser sedikit demi sedikit lokasi tradisi kondangan tersebut dengan berbagai alasan hingga acara itu berhasil ia tujukan kedalam masjid, yang tentu saja dalam pelaksanaannya tidak menyalahi syariat islam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saat itu saya memiliki beban berat, karena yang namanya melawan arus itu berat, Alhamdulillah kondangannya sudah bisa pindah di mushola sampai sekarang,&#8221; katanya dengan wajah sumringah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun demikian Sukarjan masih memiliki PR besar yaitu untuk menghapus mitos mengerikan yang menyelimuti dusunnya. Beragai upaya sudah berulang kali ia lakukan. Mulai dari ajakannya ke pak camat, hingga ke kepala daerah seperti Bupati dan Wakil Bupati Rembang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan pemerintah daerah berkeliling ke seluruh kecamatan yang ada di Rembang untuk audiensi dengan masyarakat ia manfaatkan untuk menyampaikan uneg-uneg yang ia pendam sekaligus mewakili perasaan warga ngaglik.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="163" data-permalink="https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/img_20200103_132959/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132959.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;1.9&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;POCOPHONE F1&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1578058199&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;3.94&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;102&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.01&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Sukarjan Dan Mitos Mengerikan di Dusunnya" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Warga dusun Ngaglik yang sedang duduk bersantai di depan rumah&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132959.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132959.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-163" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132959.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132959.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20200103_132959.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Warga dusun Ngaglik yang sedang duduk bersantai di depan rumah</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahun 2018, saat audiensi di pendopo kecamatan Sumber, ia mengajak pemerintah daerah untuk berkunjung ke dusun ngaglik agar mitos tersebut bisa dipatahkan. Kebetulan yang menjawab permintaan tersebut adalah Wakil Bupati Rembang Buyu Andriyanto. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikesempatan itu, lanjut Sukarjan, Wabup Bayu mengampaikan dalam waktu dekat akan berkunjung kesana. Namun setelah 1 tahun berlalu, kedatangan pemimpin daerah yang ia dambakan seperti hilang begitu saja, dan harapan tinggal harapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dulu Wakil Bupati pernah bilang akan berkunjung kesini, waktu ada audiensi di kecamatan. Tapi ya saya tunggu sampai ganti tahunnya nyatanya belum kesini-kesini. Entah itu dihantui mitos tersebut entah sedang banyak acara saya tidak bisa memastikan,&#8221; ungkapnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak sampai disitu saja, upaya mengajak pemimpin daerah terus dilakukannya, yang terakhir saat kegiatan audiensi pada bulan Desember tahun 2019 di pendopo kecamatan Sumber. Ia kembali mengajak pemimpin daerah untuk berkunjung agar pelayanan pemerintah mulai dari bidan dan penghulu bersedia datang kesana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kali ini yang menjawab adalah Bupati Rembang H. Abdul Hafidz, dalam jawabannya Bupati Hafidz akan mengajak seluruh jajarannya untuk mengunjungi dusun tersebut. Mendengar jawaban yang diberikan Bupati, Sukarjan menaruh harapan besar agar kali ini pelayanan bisa sampai ke Dusunnya setelah ada kunjungan Bupati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Sekarang logikannya begini, misal bosnya saja tidak berani masuk bawahannya wajar kalau tidak berani. Harapan saya janji-janji dari pejabat yang di Kabupaten bisa direalisasikan, ibaratnya kalau Bupatinya aja datang kesini mengajak camatnya mosok camatnya tidak mau kesini, kalau camat kesini ngajak bawahnnya mosok bawahannya tidak mau. Kalau semuanya sudah bersedia datang kesini, mitos-mitos itu pasti akan terkikis,&#8221; ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam satu tahun terakhir ini, Sukarjan sedikit merasa lega karena saat ini sudah ada penghulu yang mau masuk desa dan warga bisa melangsungkan pernikahan di dusun mereka sendiri. Pasalnya yang sebelumnya penghulu tidak berani sama sekali masuk dusun dengan berbagai alasan, salah satunya dengan menggelar akad sesuai sunnah islam yaitu didalam masjid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena di dusun ngaglik tidak ada bangunan masjid, maka lagi-lagi warga harus boyongan keluar dusun. Kebetulan masjid terdekat dari dusun ngaglik ada di dusun sebelah yaitu dusun Jasem.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kalau kita tidak ke KUA kan pejabatnya harus datang kesini, datangnya tidak kesini tapi ya didukuh sebelah. Alasannya akadnya di masjid aja biar sesuai sunnah Rusulullah, ya itu kalau tujuannya memang sunnah baik. Namun tujuannya tidak gitu kok, biar tidak masuk Ngaglik acara itu ditempatkan di masjid dukuh Jasem aja,&#8221; terangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia meyakini adanya pergantian kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di Kecamatan Sumber tersebutlah yang akhirnya warga ngaglik bisa terlayani dalam hal pernikahan. Apalagi Kepala KUA tersebut juga merupakan teman baiknya yang dasarnya sangat religius.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Ini orangnya kan religius, kebetulan juga temen dan berani kesini. Jadi dalam satu tahun terakhir ini alhamdulillah sudah ada akad nikah yang dilaksanakan disini,&#8221; ungkapnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="164" data-permalink="https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/img-20200105-wa0008/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200105-WA0008.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Sukarjan Dan Mitos Mengerikan di Dusunnya" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt; Suasana perkampungan di Dusun Ngaglik&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200105-WA0008.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200105-WA0008.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-164" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200105-WA0008.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200105-WA0008.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG-20200105-WA0008.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption> Suasana perkampungan di Dusun Ngaglik</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sukarjan tidak sendirian dalam memperjuangkan dusunnya agar mendapatkan pelayanan khususnya dibidang kesehatan. Kepala Desa Kedungasem, Zulianah saat dikonfirmasi oleh Linimedia mengatakan, pihaknya juga sudah melaporkan terkait keluh kesah masyarakat dusun Ngaglik dari tahun ke tahun pada kegiatan audiensi yang degelar pemerintahan kabupaten di pendopo kecamatan sumber Desember lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersama Sukarjan, Kades yang baru terpilih di bulan November 2019 itu mendapat arahan dari Bupati Rembang H. Abdul Hafidz agar dirinya bersama perangkat desa berkunjung ke dusun ngaglik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arahan tersebut seakan tidak memberikan solusi karena Zulianah sudah sering ke dusun tersebut namun tidak terjdi apa-apa. Dari hasil kunjungannya tersebut, Zulianah menyoba meyakinkan masyarakat daerah lainnya dengan mengajak Camat setempat agar lebih meyakinkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun usahanya tersebut menemui titik buntu. Camat Sumber yang ia hubungi melalui grup Whatsapp terkait fakta dan ajakan agar ikut berkunjung kesana hanya justru tidak merespon. Padahal dari informasi pesan digrup Whatsapp tersebut Camat membacanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saya sudah coba meyakinkan pak camat, sudah saya kirim pesan melalui grup WA, tapi cuma dibaca saja,&#8221; beber Zulianah saat dikonfirmasi Linimedia via telepon.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia paham sekali kesusahan yang dialami warganya yang tinggal di Dusun Ngaglik. Zulianah hanya berdoa agar mitos &#8211; mitos yang sudah beredar di masyarakat segera hilang, sehingga dusun Ngaglik tak terkesan menakutkan lagi segera mendapat dan warganya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang sama seperti di dusun lainn</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Yang terpenting bidan desa mau mengurus bayi di dusun Ngaglik, sampai saat ini belum ada bidan desa yang mau masuk. karena yang dibutuhkan hanya bidan desa saja di dusun itu,&#8221; pungkasnya. </p>
<div class="fb-background-color" style="background-color:#ffffff"><div class="fb-comments" style="width:700px" data-href="https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/" data-numposts="10" data-lazy="true" data-colorscheme="light" data-order-by="social" data-mobile="true"></div></div><div class="alert warning"><strong>External comments notice:</strong> You may need to sign in to the external service to view or post comments.</div><p>Artikel <a href="https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/">Sukarjan Dan Mitos Mengerikan di Dusunnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://linimedia.com/sukarjan-dan-mitos-mengerikan-di-dusunnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">162</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bermula Dari Abrasi, Hingga Diminati Para Wisatawan</title>
		<link>https://linimedia.com/bermula-dari-abrasi-hingga-diminati-para-wisatawan/</link>
					<comments>https://linimedia.com/bermula-dari-abrasi-hingga-diminati-para-wisatawan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Rendy Wibowo]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2020 10:49:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Top]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[kjb]]></category>
		<category><![CDATA[pantai kjb]]></category>
		<category><![CDATA[rembang]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://linimedia.com/?p=147</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rembang&#160;&#8211;&#160;Karangjahe, pantai dengan pesona hamparan pasir putih dan...</p>
<p>Artikel <a href="https://linimedia.com/bermula-dari-abrasi-hingga-diminati-para-wisatawan/">Bermula Dari Abrasi, Hingga Diminati Para Wisatawan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="155" data-permalink="https://linimedia.com/bermula-dari-abrasi-hingga-diminati-para-wisatawan/img_20191129_090000-2/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090000-1.jpg?fit=1008%2C567&amp;ssl=1" data-orig-size="1008,567" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;1.9&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;POCOPHONE F1&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1575018000&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;3.94&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;100&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.00051124744376278&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Pengunjung pantai Karangjahe beach (KJB)" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Pengunjung pantai Karangjahe beach (KJB) bermain motor ATV dipantai&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090000-1.jpg?resize=680%2C389&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090000-1.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-155" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090000-1.jpg?w=1008&amp;ssl=1 1008w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090000-1.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090000-1.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Pengunjung pantai Karangjahe beach (KJB) bermain motor ATV dipantai</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rembang</strong>&nbsp;&#8211;&nbsp;Karangjahe, pantai dengan pesona hamparan pasir putih dan lembut yang dijuliki pantai seribu pohon cemara, belakangan ini menjadi bahan perbincangan warga Rembang. Bagaimana tidak, pantai yang terletak di Desa Punjulharjo itu berhasil menempati posisi 5 besar pada perlombaan desa wisata nusantara 2019 tingkat nasional. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Rembang memang dikenal sebagai kota yang terletak di daerah pesisir. Tak heran jika para pelancong yang datang ke Rembang pasti mencari destinasi wisata seputar pantai. Selain hamparan pasir putih yang lembut dan panjang terdapat juga ribuan pohon cemara yang menghiasi pantai&nbsp;karang&nbsp;jahe.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ribuan pohon cemara ini berderet rapi sepanjang 1 KM seolah berbaris menghadap laut, menambah keindahan pantai. Dengan menghamparkan tikar dibawah rindangnya pohon cemara yang disediakan oleh penjual makanan dan minuman diwarung milik warga setempat, pengunjung dapat melepaskan penat bersama keluarga maupun sahabat sambil menikmati makanan serta duduk-duduk bersantai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pantai&nbsp;Karang&nbsp;Jahe&nbsp;mudah dijangkau karena posisinya berada di jalur pantura, antara Rembang -Lasem. Dari pusat kota Rembang jaraknya hanya sekitar 7,5 kilometer. Sangat mudah menemukan lokasi Pantai&nbsp;Karang&nbsp;Jahe&nbsp;karena tepat dipinggir jalan pantura terdapat Gapura Desa Punjulharjo di pintu masuk. Setelah itu tinggal belok kiri dan bakal terlihat papan bertuliskan &#8220;Selamat Datang di Obyek Wisata Pantai&nbsp;Karang&nbsp;Jahe&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum memasuki kawasan pantai, para pengunjung akan disambut oleh beberapa warung makan yang menjajakan menu olahan ikan segar hasil dari tangkapan nelayan setempat. Aroma masakan ikan khas daerah pesisir seolah melambai-lambai untuk menggiring pengunjung mampir sebelum mereka bermain dengan ramahnya ombak pantai dan pasir putih yang lembut.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski saat Linimedia mengunjungi lokasi tersebut tidak pada hari libur, pengunjung pantai ini ternyata masih lumayan banyak. Mulai dari usia anak-anak hingga dewasa. Lokasinya yang mudah dijangkau dan panorama indah sekitarnya memang membuat&nbsp;Karang&nbsp;Jahe&nbsp;jadi primadona untuk berwisata bersama keluarga maupun sahabat. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi&nbsp;Karang&nbsp;Jahe&nbsp;juga memiliki permukaan landai, sangat cocok untuk bersantai dan memanjakan mata melihat pemandangan laut sambil mendengarkan deburan ombak kecil yang memicu rasa tenang.<br>Dalam pantauan Linimedia, terlihat beberapa pengunjung duduk santai sambil minum air kelapa muda bersama keluarganya, namun ada juga pasangan pemuda yang bemain motor ATV untuk berkeliling disekitar pantai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat melintasi warung-warung yang berjejer rapi didekat parkiran motor, para penjual sangat ramah menawarkan dagangannya meski pagi itu hanya baru tersedia minuman hangat dalam bentuk saset seperti kopi dan&nbsp;jahe&nbsp;dengan gorengan hangat yang nampak baru saja diangkat dari penggorengan dan disajikan diatas meja kecil dengan tudung saji.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ali Mustofa merupakan seorang pemuda asli Desa Punjulharjo yang menjadi motor bersama pemuda&nbsp;karang&nbsp;taruna yang lain hingga saat ini pantai&nbsp;karangjahe&nbsp;bisa melenggang dikanca wisata nasional. Pria usia 33 tahun itu telah menjadi pengelola pantai sejak pengelolaan masih dipegang&nbsp;karang&nbsp;taruna pada tahun 2009.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbincang santai di warung pinggir pantai,&nbsp; pemuda yang mengenakan kemeja batik ini membeberkan sejarah singkat awal mula dibukanya pantai&nbsp;karangjahe. Sebelum pantai&nbsp;karang&nbsp;jahe&nbsp;dikenal banyak orang seperti ini, dulu hanya sebuah dataran pantai kosong yang&nbsp; terkena bencana abrasi besar-besaran pada tahun 2008. Agar bencana tersebut tidak terus-terusan terjadi, Oleh pemuda&nbsp;karang&nbsp;taruna setempat mencoba untuk melakukan gerakan penghijauan dengan ditanami tanaman bakau. Setelah ditanam, alih-alih bisa untuk menangani masalah abrasi ternyata tanaman bakau tersebut malah tidak dapat tumbuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8221; Agar tidak terkena abrasi kita coba penghijauan dengan tanaman bakau seperti yang ada diwilayah pantai yang lain. Namun setelah dicoba hasilnya gagal, dan tidak maksimal,&#8221; kata Ali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah diamati, lanjut Ali sambil menengguk kopi saset pesanannya, pantai&nbsp;karang&nbsp;jahe&nbsp;memiliki karakter tanah yang berbeda dengan wilayah pantai lainnya seperti dilokasi wisata jembatan merah yang terkenal dengan hutan mangrovenya. Sehingga harus menyesuaikan tanaman yang cocok untuk karakter tanah dipantai&nbsp;karang&nbsp;jahe.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Jenis pohon yang kita tanam tidak sesuai dengan karakter tanah. Dulu yang kita coba jenis mangrove, avicennia, rhizophora, dan lain-lainnya namun gagal karena tanaman tersebut cocoknya untuk karakter tanah yang berlumpur, sedangkan di pantai&nbsp;karang&nbsp;jahe&nbsp;berpasir,&#8221; ucapnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="157" data-permalink="https://linimedia.com/bermula-dari-abrasi-hingga-diminati-para-wisatawan/img_20191129_085809_1/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_085809_1.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;1.9&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;POCOPHONE F1&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1575017889&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;3.94&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;100&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.0012594458438287&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="IMG_20191129_085809_1" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Berjajar tikar pedagang untuk pengunjung pantai Karangjahe beach (KJB) yang ingin bersantai &lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_085809_1.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_085809_1.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="Pantai Karangjahe beach (KJB) " class="wp-image-157" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_085809_1.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_085809_1.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_085809_1.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Berjajar tikar pedagang untuk pengunjung pantai Karangjahe beach (KJB) yang ingin bersantai </figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun dengan hasil yang nihil, mereka tetap terus mencoba untuk menghijaukan pantai&nbsp;karang&nbsp;jahe&nbsp;dari tahun ke tahun. Hingga pada akhirnya pria berkumis tipis itu berhasil menemukan tanaman yang sesuai dengan karakter pantainya pada tahun 2011.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;kita menemukan sebuah jenis pohon yaitu pohon cemara, kemudian difasilitasi oleh Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Rembang dan Kodim Rembang bekerjasama dengan pemerintah desa, pemuda&nbsp;karang&nbsp;taruna menjadi garda depan dalam penanaman bibit-bibit pohon cemara,&#8221; jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain melakukan penanaman para pemuda&nbsp;karang&nbsp;taruna desa punjulharjo juga melakukan perawatan bibit cemara yang telah ditanam. Kemudian Pengembangan pengayaan tanaman cemara dilokasi pantai menjadi target mereka selanjutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Akhirnya pada tahun 2011-2012 pohon cemara ini tumbuh dengan baik, cepat tinggi dan cocok dengan karakter tanah dan cuacanya,&#8221; lanjutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kesuksesan para pemuda&nbsp;karang&nbsp;taruna dalam melakukan penghijauan disepanjang pantai, sebuah penghargaan diberikan oleh pemerintah daerah. Barulah pada tahun 2013, wisata pantai&nbsp;karang&nbsp;jahe&nbsp;dibuka untuk umum secara resmi. Pada tahun 2015 pengelolaan yang asalnya dikelola oleh pemuda&nbsp;karang&nbsp;taruna sebelumnya, berpindah pengelolaannya menjadi tingkat desa atau disebut BUMDes ABIMANTRANA.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak berhenti sampai disitu, dari tahun ke tahun para Pengelola bidang unit usaha BUMDes ABIMANTRANA memiliki tugas untuk meramaikan tempat wisata milik desanya. Mereka harus mengundang daya tarik wisatawan agar mau berkunjung.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kita menggelar bergagai event mulai dari tingkat desa maupun kabupaten. Acaranyapun ada music, perlombaan egrang, balap teklek dan lain sebagainya, &#8221; katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat disinggung mengenai keluh kesahnya dalam sebuah perjuangan membangun sebuah destinasi wisata, pria berkulit eksotis itu menjawab dengan nada rendah sambil menghela nafas seakan telah banyak masalah yang telah ia laluinya. Terkait program wisata sangat komplek sekali permasalahannya, yang pertama mengenai persepsi masyarakat terkait adanya wisata ini. Masyarakat jaman dahulu hanya berfikir lahan desa dimanfaatkan untuk dijadikan tambak karena rata-rata penduduk desa berprofesi sebagai petani tambak.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img data-recalc-dims="1" loading="lazy" decoding="async" width="680" height="383" data-attachment-id="156" data-permalink="https://linimedia.com/bermula-dari-abrasi-hingga-diminati-para-wisatawan/img_20191129_090109/" data-orig-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090109.jpg?fit=807%2C454&amp;ssl=1" data-orig-size="807,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;1.9&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;POCOPHONE F1&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1575018069&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;3.94&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;100&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.00078492935635793&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}" data-image-title="Pantai Karangjahe beach (KJB)" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Jalan masuk ke area pantai dan wahana permainan air pantai Karangjahe beach (KJB)&lt;/p&gt;
" data-large-file="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090109.jpg?resize=680%2C388&amp;ssl=1" src="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090109.jpg?resize=680%2C383&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-156" srcset="https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090109.jpg?w=807&amp;ssl=1 807w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090109.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/linimedia.com/wp-content/uploads/2020/11/IMG_20191129_090109.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w" sizes="auto, (max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Jalan masuk ke area pantai dan wahana permainan air pantai Karangjahe beach (KJB)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Namun dirinnya berhasil merubah mindset warga desanya. Lahan wisata pantai yang dulunya sempit karena lahannya sudah mentok dengan tambak warga, akhirnya pihak warga merelakan lahan tambaknya untuk perluasan lahan wisata pantai&nbsp;karang&nbsp;jahe&nbsp;dengan sistem bagi hasil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Adanya pro kontra itu biasa jelas, karena untuk merubah mindset masyarakat itu cukup susah, namun secara pelan-pelan hingga saat ini perubahan mindset berhasil,&#8221; terangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ini pengelola pantai&nbsp;karang&nbsp;jahe&nbsp;sudah memiliki 117 kios pedangan, yang mulanya hanya berjumlah 5 kios hasil dari swadaya masyarakat. Kios pedagang sengaja disediakan pengelola agar bisa dimanfaatkan oleh para warga desa punjulharjo guna pemberdayaan masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dihari biasa pantai&nbsp;karang&nbsp;jahe&nbsp;memiliki pengunjung mencapai 500 hingga 1000 wisatawan. Namun jika memasuki hari libur jumlah pengunjung tersebut bisa naik 10 kali lipat mencapai 5000 hingga 10000 wisatawan, dengan perputaran uang rata-rata Rp. 500 juta per bulan. Meskipun demikian Ali tidak terus berpuas diri, kedepan dirinya akan menambah beberapa wahana permainan lagi guna dapat menarik lebih banyak wisatawan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;terkait pengembangan kedepan sesuai master plan kita, penataan lokasi dan infrastrukturnya, dan nanti kalau sudah tertata pasti ada penambahan-penambahan wahana yang menarik,&#8221; pungkasnya</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<div class="fb-background-color" style="background-color:#ffffff"><div class="fb-comments" style="width:700px" data-href="https://linimedia.com/bermula-dari-abrasi-hingga-diminati-para-wisatawan/" data-numposts="10" data-lazy="true" data-colorscheme="light" data-order-by="social" data-mobile="true"></div></div><div class="alert warning"><strong>External comments notice:</strong> You may need to sign in to the external service to view or post comments.</div><p>Artikel <a href="https://linimedia.com/bermula-dari-abrasi-hingga-diminati-para-wisatawan/">Bermula Dari Abrasi, Hingga Diminati Para Wisatawan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://linimedia.com">linimedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://linimedia.com/bermula-dari-abrasi-hingga-diminati-para-wisatawan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">147</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
