Mainan Truk di Rembang Didandani Layaknya Truk Pawai Karnaval

Truk-truk mainan di Desa Waru Kecamatan Rembang didandani layaknya truk dalam acara pawai karnaval. (Linimedia/Rendy Wibowo)

Rembang – Truk-truk mainan di Desa Waru Kecamatan Rembang didandani layaknya truk dalam acara pawai karnaval. Dilengkapi dengan sound sistem yang menggelegar, truk-truk tersebut mengarak seorang anak usai dikhitan keliling rumah-rumah warga beberapa waktu lalu.

Kalau yang ukuran besar masih mentahan belum jadi itu Rp. 2 juta. Kalau sudah dikasih sound tergantung merknya, kalau punya saya total perkiraan habis Rp. 10 juta.

Truk-truk dengan panjang hampir 1 meter itu dibuat semirip mungkin dengan truk aslinya. Mulai dari kepala truk, bak, hingga stiker ditempel mirip dengan yang biasa dipasang di truk sungguhan.

Dibagian interior truk juga ada kursi untuk supir, kemudi, hingga tuas untuk mengoper gigi. Cara menjalankan truk itu dengan cara ditarik menggunakan tongkat yang dikaitkan di bagian kepala truk.

Ketua komunitas miniatur truk Gede Atur Waru, Agus Riyanto mengatakan, awal mulanya miniatur truk tersebut hanya berupa truk berukuran kecil. Seiring berjalannya waktu, para pemilik miniatur truk berlomba-lomba untuk menciptakan miniatur truk yang berukuran besar dengan sound sistem yang besar-besar juga.

“Awalnya itu kecil-kecil, pakainya spiker aktif. Sekarang pakai sound sistem besar-besar seperti ini,” kata Agus Riyanto, Minggu 14 Maret 2021.

Harga dari miniatur truk lengkap dengan lampu dan sound sistem bisa menyentuh angka puluhan juta. (Linimedia/Rendy Wibowo)

komunitas yang berdiri pada tahun 2019 itu memiliki 10 anggota. Semuanya merupakan warga Desa Waru. Ia berujar miniatur truk-truk itu di produksi di beberapa wilayah. Mulai dari Desa Waru sendiri, dari Kecamatan Sumber, hingga Kabupaten Pati.

Harganya pun cukup fantastis, dari bahannya saja atau truk yang belum diberi aksesoris tambahan harganya bisa menyentuh Rp. 2 juta per unit. Jika sudah dilengkapi dengan berbagai aksesoris seperti sound sistem dan lampu, harganya bisa mencapai puluhan juta.

“Kalau yang ukuran besar masih mentahan belum jadi itu Rp. 2 juta. Kalau sudah dikasih sound tergantung merknya, kalau punya saya total perkiraan habis Rp. 10 juta,” ucapnya.

Untuk sumber listriknya, ia menggunakan aki tower 170 ampere untuk menghidupkan sound sistemnya. Jika pada malam hari, ia menggunakan tambahan aki 100 ampere sebagai daya untuk menghidupkan lampu.

Setiap truk memiliki pasukan dengan seragam yang menyesuaikan nama dari truk yang akan dikawal. (Linimedia/Rendy Wibowo)

Setiap truk memiliki pasukan yang mengenakan seragam dengan nama truk yang akan dikawal saat berkeliling nantinya. Mulai dari pasukan truk boto balap, pasukan truk vian putra, pasukan truk plankton dan masih banyak lagi.

“Itu yang buat seragam itu bos-bosnya yang punya truk. Jadi mereka pasukan yang mengawal truk-truk. Masing-masing truk punya pasukan sendiri-sendiri,” bebernya.

Ia menambahkan, setiap Minggu malam komunitas miniatur truk Gede Atur Waru mengadakan perkumpulan para anggotanya. Lokasinya pun berpindah pindah sesuai dengan situasi dan kondisi.

“Setiap malam Senin pasti ada keliling, lokasi kelilingnya pindah-pindah,” imbuhnya.

Baca juga:  Wisata Pagar Pelangi di Rembang Sajikan Pemandangan Alam Pegunungan

Next Post

Kumpulan Tulang Ditemukan di Dinding Gua Desa Bitingan Sale, Diduga Dari Suku Pra Sejarah

Sel Mar 16 , 2021
Share on Facebook Tweet it Pin it Email Rembang – Kumpulan tulang belulang yang diduga dari manusia pra sejarah ditemukan […]

Kategori

Arsip